NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Nyamuk Aedes aegypti menjadi momok bagi warga SDN 1 Margomulyo, Ngawi.
Bagaimana tidak, tiga siswa sekolah itu menjadi korban. Ketiganya dilaporkan positif terjangkit demam berdarah dengue (DBD).
Ironisnya, salah seorang di antaranya meninggal dunia pada hari Senin (25/3) lalu. Puskesmas setempat lantas melakukan fogging, Rabu (27/3) kemarin.
"Kami minta fogging sebagai bentuk antisipasi, meski belum diketahui dari mana anak-anak terjangkit atau tergigit,’’ kata Arum Sulistiaty, salah satu guru SDN 1 Margomulyo.
Arum mengatakan, fogging inisiatif pihak sekolah setelah mendengar kabar salah satu siswa kelas III meninggal akibat DBD. Pun, dua siswa lainnya positif DBD.
"Kami rutin kerja bakti membersihkan lingkungan sekolah,’’ klaimnya.
Belakangan diketahui jika siswa SDN 1 Margomulyo yang meninggal berdomisili di Kelurahan Ketanggi.
Di wilayah itu ada tiga warga terkena DBD. Masing-masing tinggal di RT 15, 16, dan 17.
"Ketiga RT itu di-fogging,’’ ujar Reza Al Hafid, lurah Ketanggi.
Anang Ristanto, pengelola program penyakit menular vektor Dinkes Ngawi, mengatakan siswa SDN 1 Margomulyo yang meninggal DBD berusia delapan tahun.
Bocah itu telat dibawa ke fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes).
"Sebelumnya menderita panas, namun sempat menurun. Padahal fase turunnya panas justru krusial,’’ paparnya.
Terhitung sejak awal tahun ini, dinkes mencatat 212 orang terjangkit DBD. Satu di antaranya meninggal.
"Kasus DBD saat ini relatif turun dibandingkan dua bulan sebelumnya,’’ ujarnya sembari menyebut Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono telah mengeluarkan surat instruksi pemberantasan sarang nyamuk. (sae/cor)
FAKTA KEMATIAN BOCAH DELAPAN TAHUN KARENA DBD
- Di tempat sekolahnya, SDN 1 Margomulyo, ada dua siswa terkena DBD
- Di tempat tinggalnya, Kelurahan Ketanggi, ada tiga warga terkena DBD
- Dinkes menyebut bocah itu dirujuk fasyankes dalam kondisi kritis
Sumber: Diolah dari wawancara
Editor : Budhi Prasetya