NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Ada sedikit titik terang soal rencana pembangunan Tol Ngarobat (Ngawi-Bojonegoro-Babat).
Itu terkait dengan opsi trase Tol Ngarobat ruas Ngawi yang sebelumnya muncul ke permukaan. Pemerintah pusat condong menggunakan lahan di delapan desa.
Bahkan trase megaproyek Tol Ngarobat di wilayah Kecamatan Geneng, Ngawi, dan Kasreman, itu sudah masuk cetak biru.
Kementerian PUPR menyertakan rencana megaproyeknya di buku Public Private Partnership Infrastructure Project Plan in Indonesia terbitan 2022.
"Buku itu untuk menggaet investor karena skema proyeknya KPBU (kerja sama pemerintah dan badan usaha, Red),’’ kata Kabid Infrastruktur dan Kewilayahan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Ngawi Totok Sugiharto, Selasa (16/4).
Kementerian PUPR sebelumnya punya dua alternatif trase Tol Ngarobat untuk ruas Ngawi. Trase opsi kedua adalah melintasi lima desa di Kecamatan Ngawi, Paron, dan Pitu.
Namun, berdasarkan hitung-hitungan anggaran, trase tersebut bakal menelan biaya tidak sedikit.
"Trase yang melintasi delapan desa biayanya lebih murah,’’ ujarnya.
Totok mengungkapkan, trase delapan desa sepanjang 15,5 kilometer dari total panjang Tol Ngarobat 106,4 kilometer.
Lokasinya bakal melintasi lahan pertanian pangan berkelanjutan (LPPB). Sementara, opsi trase lima desa lebih panjang dua lipat. Selain itu melintasi aliran Bengawan Solo.
"Lebih mahal karena harus membangun dua jembatan,’’ ucapnya.
Totok mengklaim tidak masalah ketika disinggung trase yang dipilih mencaplok LPPB. Dalihnya, lahan produktif yang digunakan tidak sampai 200 hektare.
Dia memperoleh data dari dinas ketahanan pangan dan pertanian (DKPP), luasan cadangan LPPB sekitar 6.477 hektare.
"Cadangan LPPB masih luas,’’ klaimnya. (sae/cor)
Editor : Budhi Prasetya