NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Perasaan sedih masih menyelimuti Davin Ahmad Sofyan, 28, warga Desa Sekaralas, Widodaren.
Perjuangan menyembuhkan istri yang mengalami infeksi pasca cabut gigi bungsu selama empat bulan gagal.
Istri tercintanya yang bernama Nira Pranita Asih, 31, warga Ngawi, menghembuskan nafas terakhir pada 27 April lalu saat menjalani perawatan intensif di RS dr Oen Solo.
Video tentang kisah perjuangan istrinya melawan infeksi akibat cabut gigi bungsu itu bahkan viral di TikTok dengan lebih dari lima juta views.
Ditemui di tempat usahanya, Jalan Raya Ngawi-Solo, Desa Gendingan, Kecamatan Widodaren, Ngawi, Selasa siang (7/5), Davin menceritakan kronologi kisah malang sang Istri.
"Semua berawal dari cabut gigi bungsu di salah satu klinik dokter gigi di Desa Walikukun, Widodaren," terang bapak satu anak itu.
Semula, istri Davin sering mengeluh pusing. Lalu Davin dan istrinya berkonsultasi ke klinik dokter gigi di Desa Walikukun pada 28 Desember 2023.
Dokter mendiagnosa bahwa keluhan pusing itu akibat gigi bungsu kiri bawah. Dokter kemudian menyarankan rontgen gigi.
Suami istri tersebut langsung rontgen panoramic di RSU Sarila Husada di Sragen.
Kemudian, hasilnya langsung dibawa kembali ke klinik tersebut.
"Dari foto rontgen gigi bungsu miring kiri dan terletak paling belakang. Keputusan dokter cabut gigi bungsu hari itu juga, kami ikuti rekomendasi untuk cabut gigi di klinik tersebut," ujarnya.
Keesokan harinya, pasca cabut gigi, muncul pembekakan.
Davin kemudian konsultasi ke dokter gigi klinik tersebut. Namun mereka libur sampai 3 Januari.
Dirinya lalu menghubungi via WA.
Dokter gigi tersebut menganggap pembekakan pasca pencabutan wajar, hanya perlu dikompres.
Karena pembekakan yang tidak kunjung mereda, pada 30 Desember 2023, istri Davin dibawa ke Rumah Sakit Sarila Husada, Sragen.
"Lalu konsultasi ke RS Panti Waluyo, Solo. Selain bengkak, indikasinya radang tenggorokan. Setelah itu rawat jalan, kami tinggal sementara di Solo pada 31 Desember,” paparnya.
Selama rawat jalan, Davin melihat tidak ada perkembangan yang dirasakan oleh istrinya.
Hingga pada akhirnya, pada 1 Januari 2024 mereka berobat ke Rumah Sakit JIH Solo.
"Hasilnya sama, ada indikasi radang tenggorokan. Diberi vitamin untuk meringankan dan rawat jalan," kata Davin
Menurutnya, obat dari Rumah Sakit JIH menunjukkan perkembangan positif. Kondisi Nira membaik dan diperbolehkan pulang ke Ngawi.
"Bengkak pipi sudah membaik, tapi kemudian muncul bengkakan di bagian leher," terangnya.
Akibat bengkak di leher, istri Davin tidak bisa ngomong.
Pada 3 Januari 2024, mereka periksa ke dokter langganan keluarga di Jogorogo. Nira akhirnya opname.
Dirawat secara khusus. Sebab antibiotik yang diberikan sudah tidak mempan.
"Saat rawat inap satu hari, bengkak sempat hilang, tapi kemudian sesak nafas. Akhirnya dirujuk ke RS dr Oen, Solo karena didiagnosa infeksi sudah menjalar ke pernapasan,” bebernya.
Benar saja, saat dirawat di RS dr Oen, infeksi berupa nanah sudah menjalar ke kedua paru-paru.
Nira terpaksa memakai alat bantu pernapasan pada 4 Januari 2024.
Infeksi sudah parah, akhirnya diputuskan untuk operasi leher menghilangkan nanah, yang timbul dari infeksi saluran pernapasan paru paru.
"Operasi WSD mengeluarkan cairan akhirnya dilakukan," terangnya.
Davin menyebutkan perlu waktu satu pekan untuk menunggu hasil operasi.
Setelah operasi dan selang dilepas, masih sesak nafas bahkan rongga paru terus menghasilkan nanah.
Hingga akhirnya, Nira divonis harus operasi thorax pada awal Februari 2024. Pembedahan selaput paru paru bagian kanan. Padahal kedua paru-parunya terinfeksi.
Namun karena hanya bisa operasi thorax satu kali, akhirnya pilihan operasi thorax bagian kanan ditempuh untuk menyelamatkan salah satu paru-paru istrinya.
Setelah operasi, dirawat di ICU selama dua minggu.
"Saat ventilator dilepas, istri tidak bisa bernafas, kemudian dilakukan operasi bagian leher dilubangi atau Trakeostomi, nafas lewat jalur leher. Lalu dipindahkan dari ICU," paparnya.
Beberapa hari kemudian dokter membolehkan istrinya pulang ke rumah.
Dengan catatan punya alat pernafasan bantuan, kasur medis, dan oksigen.
Dia akhirnya memutuskan pulang ke Ngawi karena menjelang Lebaran. Namun istrinya masih harus bernafas lewat lubang tenggorokan, makan melalui selang.
Saat di rumah, istrinya sempat membaik hingga bisa berlatih berjalan. Namun itu tidak bertahan lama.
Pada 27 April, kondisi istri Davin mengalami penurunan drastis dan kembali dibawa ke RS dr Oen Solo.
Nestapa datang, istri Davin akhirnya menghembuskan nafas terakhir di rumah sakit tersebut.
"Berat badan menurun jadi 27 kilogram. Kondisinya drop, kemudian meninggal saat dilakukan pertolongan pada 27 April," katanya.
Davin sejatinya sempat meminta pertanggungjawaban dokter gigi klinik di Walikukun. Namun tidak mendapatkan respon yang positif.
Karena dirinya fokus untuk menyembuhkan istrinya, gugatan untuk dokter tersebut tidak diajukan.
Namun setelah istrinya meninggal dunia, dia merasa perlu menuntut keadilan.
Davin yang merasa dirugikan, membawa persoalannya ke meja hijau. Selain kehilangan orang tercinta, dia juga rugi waktu dan uang.
Karena biaya empat bulan selama pengobatan menghabiskan biaya sebesar Rp 500 juta. "Saat ini konsultasi dengan lawyer, akan membawa kasus ini ke meja hijau," pungkasnya. (sae/den)
Editor : Mizan Ahsani