Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Pembangunan Jembatan Sidolaju Dimulai, Operasional Perahu Kayu Dihentikan,  Begini Kata Bupati Ony

Asep Syaeful • Senin, 13 Mei 2024 | 23:00 WIB

BERHENTI BEROPERASI: Perahu kayu yang biasa digunakan warga dua desa di Kecamatan Widodaren dan Karanganyar untuk melintasi aliran Bengawan Solo.
BERHENTI BEROPERASI: Perahu kayu yang biasa digunakan warga dua desa di Kecamatan Widodaren dan Karanganyar untuk melintasi aliran Bengawan Solo.
 

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Operasional perahu kayu sebagai sarana transportasi penyeberangan warga di Desa Sidolaju,Widodaren,Ngawi,resmi berhenti.

Sebagai gantinya, Pemkab Ngawi, membangun jembatan untuk akses warga menyeberangi Bengawan Solo yangmengalir di desa tersebut.

Ya, penyetopan operasional perahu kayu itu berbarengan dengan dimulainya pembangunan Jembatan Sidolaju.

Sebelumnya, warga Desa Sidolaju, Ngawi dan Desa Gembol, Karanganyar, menjadikan perahu kayu tersebut sebagai moda transportasi untuk menyeberangi aliran Bengawan Solo.

"Besok (hari ini, Red) mulai proses pembangunan,’’ kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Ngawi Mohammad Sadli, Minggu (12/5) kemarin.

Pekerjaan pembangunan proyek jembatan senilai Rp 9,9 miliar itu dilakukan olej CV Jasa Karya selaku pemenang tender.

Kontraktor itu harus membangun jembatan sepanjang 120 meter dan lebar empat meter. Tempo pengerjaan maksimal 240 hari atau selesai pertengahan Desember mendatang.

"Yang perlu diwaspadai cuaca karena jembatan ini melintasi Bengawan Solo yang sering banjir saat musim hujan,’’ ujarnya.

Kemarin, Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono bersama warga sekitar menggelar selamatan. Mereka berdoa agar pembangunan Jembatan Sidolaju lancar dan selesai tepat waktu.

Sebab masyarakat sudah lama menantikan kehadiran infrastruktur tersebut. Maklum, mobilitas warga kedua desa bergantung pada jembatan untuk menyebrangi sungai.  

"Semoga keberadaan jembatan nantinya melancarkan kegiatan sosial-ekonomi,’’ ucapnya.

Selama puluhan tahun warga Desa Sidolaju dan Gembol menggunakan perahu kayu untuk menyeberangi aliran Bengawan Solo.

Bila perahu rusak, mereka membangun jembatan darurat dari bambu. Hal itu mau tidak mau dilakukan karena satu-satunya akses alternatif menuju fasilitas publik.

Seperti pasar, sekolah, dan puskesmas. Opsi jalan umum yang bisa dilalui memutar terlalu jauh.

"Kalau cuacanya bersahabat, jembatan bisa selesai lebih cepat di November,’’ kata bupati. (sae/cor)

Editor : Budhi Prasetya
#jembatan kayu #ony anwar harsono #bupati #Bengawan Solo #jembatan sidolaju #ngawi