NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Krisis air bersih di Kabupaten Ngawi tahun lalu jadi pengalaman berharga.
Pemkab Ngawi lebih siap menghadapi ancaman krisis air bersih saat musim kemarau mendatang.
Hal itu agar kekeringan tiddak meluas. Pun dampaknya yang risakan warga Kabupaten Ngawi tidak terlalu signifikan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi menyiapkan dana Rp 150 juta untuk penyaluran air bersih tahun ini.
Perangkat daerah itu menaksir puluhan desa di delapan kecamatan terancam kekeringan ekstrem.
"Kami siap mendistribusikan air bersih bila ada yang membutuhkan,’’ kata Kepala Pelaksana BPBD Ngawi Prila Yuda Putra kemarin.
Yuda tidak sampai menyebut cukup tidaknya dana Rp 150 juta untuk penanggulangan kekeringan ekstrem.
Namun bila masih kurang, pihaknya akan mengajukan anggaran tambahan di perubahan APBD 2024.
Terlepas itu, pihaknya swasta biasanya juga membantu dropping air ke wilayah kekeringan.
"Jadi tidak hanya lewat BPBD saja,’’ ujarnya.
BPBD menaksir jumlah desa potensi kekeringan ekstrem berkurang dibandingkan tahun lalu.
Dari sebelumnya 32 desa di sembilan kecamatan, berkurang tinggal 23 desa yang tersebar di delapan kecamatan.
Paling banyak di Kecamatan Pitu dengan enam desa (selengkapnya lihat grafis). Prediksi itu mempertimbangkan prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geosfisika (BMKG).
Bahwasanya berlangsung lamanya kemarau tahun lalu dipengaruhi El Nino.
"Kondisi El Nino tahun ini moderat,’’ ucapnya. (sae/cor)
RAWAN KEKERINGAN HASIL PEMETAAN
KECAMATAN PITU
Desa Banjarbanggi, Cantel, Bangunrejo Lor, Papungan, Selopuro, Ngancar
KECAMATAN BRINGIN
Desa Sumberbening, Bringin, Suruh, Kenongorejo, Gandong
KECAMATAN WIDODAREN
Desa Gendingan, Kauman, Sidomakmur
KECAMATAN KASREMAN
Desa Gunungsari, Kiyonten
KECAMATAN NGAWI
Desa Kerek, Banyuurip
KECAMATAN KARANGANYAR
Desa Mengger, Pandean
KECAMATAN MANTINGAN
Desa Mantingan
KECAMATAN KEDUNGGALAR
Desa Bangunrejo Kidul
Sumber: BPBD Ngawi
Editor : Budhi Prasetya