NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Keberadaan desa wisata terus bermunculan beberapa tahun belakangan ini.
Bahkan seolah menjadi trend, pengelola desa wisata menawarkan beragam wahana dan fasilitas.Tak terkecuali di Kabupaten Ngawi.
Sejumlah pemerintah desa (pemdes) berlomba menciptakan desa wisata yang menawarkan potensi objek liburan alternatif.
Ibarat tumbuhnya jamur di musim hujan, fenomena gairah desa wisata itu perlahan mulai surut. Pengelolaan yang kurang baik dan terkesan angin-anginan dituding jadi biangnya.
Hal itu juga ditangkap pihak pemkab. Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disparpora) Ngawi mewanti-wanti desa wisata untuk mempertahankan eksistensinya.
Maklum, dari total enam desa wisata di Kabupaten Ngawi, tercatat hanya tiga saja yang terbilang masih aktif.
"Lainnya tidak begitu aktif,’’ kata Kepala Disparpora Ngawi Wiwien Purwaningsih, Senin (18/6).
Komitmen dan kolaborasi antar pihak menjadi kunci agar objek wisata desa tidak layu sebelum berkembang.
Mulai dari pihak pemdes, karang taruna, kelompok sadar wisata (pokdarwis), dan warga.
'Sinergi dan kolaborsi dari setiap unsur seringkali menjadi kendala,’’ ujarnya.
Menurut Wiwien, kehadiran desa wisata sangat penting sebagai penyangga objek wisata utama daerah.
Apalagi lima dari enam destinasi berada di kaki Gunung Lawu. Kelimanya menjual keindahan alam.
"Sejatinya cukup lengkap, namun perlu optimalisasi,’’ tuturnya sembari menyebut satu desa wisata lainnya di Desa Bangunrejo Kidul, Kedunggalar, dengan daya tariknya industri pengolahan kayu. (sae/cor)
ENAM DESA WISATA DI KABUPATEN NGAWI
Desa Ngrayudan, Jogorogo
Desa Girikerto, Sine
Desa Hargomulyo, Ngrambe
Desa Sidorejo, Kendal
Desa Karanggupito, Kendal
Desa Bangunrejo Kidul, Kedunggalar
(Sumber: Disparpora Ngawi)
Editor : Budhi Prasetya