NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Krisis air bersih di Ngawi mulai menghantui. Ratusan warga mulai terdampak bencana kekeringan tersebut.
Badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) Ngawi menerima laporan tiga desa mengalami kekeringan per Kamis (8/8).
Krisis air bersih itu melanda warga di Desa Jagir, Kecamatan Sine; Suruh, Kecamatan Bringin; dan Banjarbagi, Kecamatan Pitu.
"Masih periode awal kemarau tapi sudah ada tiga desa kekurangan air bersih,’’ kata Kasi Kedaruratan BPBD Ngawi Partoyo.
Partoyo mengklaim telah mendistribusikan air bersih ke Desa Jagir, Suruh, dan Banjarbagi.
Masing-masing desa mendapatkan jatah dua kali dropping dengan tangki berkapasitas 5.500 liter.
Air bantuan itu dialirkan ke penampungan sementara. Karena setiap orang butuh 60 liter per hari, sekali pasokan bertahan kurang dari sepekan.
"Hanya cukup untuk tiga sampai empat hari,’’ ujarnya.
BPBD memprediksi jumlah desa kekurangan air bersih masih akan bertambah. Perangkat daerah itu memetakan 23 desa yang tersebar di delapan kecamatan rawan kekeringan.
"Prakiraan puncak musim kemarau September nanti,’’ ucapnya.
Partoyo menyebutkan anggaran penanganan bencana kekeringan cuma Rp 30 juta.
Kendati terbilang sedikit, namun banyak masyarakat yang membantu dropping air bersih.
Seperti partai politik, organisasi masyarakat dan dermawan lainnya.
"Swadaya masyarakat membuat distribusi air bersih bisa menjangkau desa-desa yang mengalami kekeringan,’’ katanya. (sae/cor)
Editor : Budhi Prasetya