NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Pemdes Jatipuro, Kecamatan Karangjati, Ngawi menggelar pengajian umum dalam memperingati bulan Muharram, Minggu (10/8) lalu.
Bertemakan peningkatan iman dan takwa (Imtak), pengajian ini dihadiri perwakilan forkopimda dan Forkopimcam Karangjati.
Kepala Desa Jatipuro Bambang Purwoko mengatakan, panitia menghadirkan Ning Umi Laila sebagai pemateri untuk berbagi ilmu agama dan menanamkan nilai keislaman.
''Sesuai permintaan masyakat sekaligus melanjutkan tradisi pengajian tahunan menyambut 1 Muharram karena sudah lama tidak dilaksanakan semenjak pandemi Covid-19,'' terangnya.
Bambang menuturkan, pengajian umum seperti ini terakhir kali digelar 2018 lalu. Setelah pandemi, Pemdes Jatipuro baru kali ini merealisasi kembali.
Kegiatan tersebut sudah lama dinantikan warga.
''Antusiasme masyarakat sangat bagus karena sudah cukup lama menantikan ini,'' jelasnya.
Pun dalam momentum HUT ke-79 RI, kali ini pemdes bakal menggelar sejumlah kegiatan.
Di antaranya acara malam tirakatan kemerdekaan Jumat (16/8), lalu upacara bendera se-Kecamatan Karangjati yang terpusat di lapangan desa Jatipuro pada Sabtu (17/8).
Selain itu ada jalan sehat pada Minggu (18/8), dan pawai karnaval tingkat Kecamatan yang dilangsungkan Selasa (20/8).
''Kami turut serta dalam pawai karnaval budaya se-Karangjati,'' katanya.
Di sektor pertanian, Bambang juga mengatakan sejauh ini Pemdes Jatipuro juga menerapkan Pertanian Ramah Lingkungan Berkelanjutan (PRLB).
Sesuai arahan Bupati Ngawi program tersebut telah direalisasikan dan bejalan optimal.
''Para petani juga sudah menggunakan MOL untuk padi dan hasilnya bagus,'' terangnya.
Pupuk organik cair dibuat secara mandiri oleh kelompok tani. Penggunaannya sudah diaplikasikan disebagian persawahan.
Selain itu pemdes juga mendirikan Rumah Burung Hantu (Rubuha) di sebagian besar persawahan.
'Jumlah Rubuha sudah cukup banyak kami juga menghimbau warga untuk menjaga dengan tidak boleh beburu burung hantu, '' tuturnya.
Pengendalian hama tikus juga dilakukan sengan metode yang aman bagi petani.
Dengan cara gropyokan baik pengasapan dengan belerang juga senapan angin.
Larangan penggunaan jebakan tikus dengan listrik juga terus dilakukan.
''Untuk pengendalian hama, kami ajak anak-anak muda yang senang menggunakan senapan angin. Kami sediakan peluru," tutupnya. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani