NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Di puncak peringatan HUT ke-79 RI, Desa Wonorejo, Kecamatan Kedunggalar, menggelar acara bersih desa sekaligus pengajian umum.
Pemdes setempat menghadirkan KH Abdurrohim atau yang lebih dikenal dengan nama Ki Joko Goro-Goro.
Kepala Desa Wonorejo Nuryanto menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan sarana untuk pembinaan iman dan takwa serta memupuk rasa cinta tanah air.
"Dari perjuangan dan pengorbanan para pahlawan, kita harus mengisi kemerdekaan ini dengan berbagai kegiatan positif," ujarnya.
Nuryanto menegaskan bahwa sebagai warga negara, adalah kewajiban kita untuk menghormati perjuangan para pendahulu.
"Tanpa jasa pahlawan yang telah gugur, kita tidak mungkin bisa menikmati kemerdekaan seperti sekarang," tambahnya, merujuk pesan Ki Joko Goro-Goro dalam pengajian (Sabtu 17/8) lalu.
Menurut Nuryanto, banyak pelajaran yang bisa diambil oleh masyarakat desa, khususnya dalam menyukuri nikmat kemerdekaan.
Salah satunya adalah dengan melestarikan tradisi bersih desa.
"Tujuan kegiatan ini untuk mensyukuri nikmat Tuhan dan melestarikan tradisi turun-temurun. Dengan selalu bersyukur, keberkahan akan turun sehingga masyarakat sejahtera," ungkapnya.
Pembinaan iman dan takwa (Imtak) diharapkan dapat semakin menumbuhkan karakter masyarakat Wonorejo yang lebih religius.
"Kita ingin semua kegiatan dilaksanakan dengan niat untuk memperoleh ridho Allah SWT, termasuk bagi para perangkat desa," tuturnya.
"Mereka harus bekerja dengan tulus, melayani kepentingan warga secara amanah dan penuh tanggung jawab," sambung Nuryanto.
Panitia acara mengundang mubaligh Ki Joko Goro-Goro atas permintaan warga.
Sosok Ki Joko Goro-Goro dikenal dengan keunikannya dalam menyampaikan materi pengajian, sering diselingi dengan lantunan shalawat dan iringan musik Islami.
Kiai asal Demak ini juga dikenal mahir dalam mengolah kata-kata menjadi sajak, yang menjadi salah satu kelebihannya dibandingkan mubaligh lainnya.
Materi yang disampaikan dalam pengajian ini berfokus pada pengamalan nilai-nilai Pancasila dengan semangat religius.
Serta mengingatkan setiap pribadi untuk terus meningkatkan kualitas keimanannya. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani