NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Dalam rangka memperingati HUT ke-79 Kemerdekaan RI, Pemerintah Desa Puhti memeriahkan Karnaval Budaya Karangjati.
Desa tersebut mengusung tema "Nyawiji Ing Bumi" atau menyatu kembali dengan alam.
Kepala Desa Puhti Agus Purwanto menjelaskan bahwa tema ini mengandung makna penting tentang kelestarian alam yang bermanfaat bagi manusia dan lingkungan.
"Tema ini juga selaras dengan tema yang diangkat oleh Pemkab Ngawi, yaitu Negeri Gemah Ripah Loh Jinawi," ujarnya.
Pesan tersebut ingin mengingatkan masyarakat bahwa semua hasil alam yang melimpah merupakan berkah dari Tuhan YME yang harus disyukuri dan dijaga.
Pemdes Puhti menampilkan dua gunungan dalam pawai tersebut, yaitu gunungan hasil bumi dan gunungan produk UMKM warga, sebagai simbol kemakmuran dan kreativitas.
Ibu-ibu dari komunitas PKK Desa Puhti juga berpartisipasi dengan menampilkan senam kreasi.
"Semua latihan dan persiapan dilakukan oleh warga desa sendiri tanpa bantuan instruktur dari luar," tambah Agus.
Pawai budaya tahun ini memberikan kesan tersendiri bagi Agus, mengingat kegiatan ini sudah lama tidak digelar.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi, dan acara ini seolah mengobati kerinduan mereka akan kemeriahan karnaval.
Agus juga mengapresiasi langkah Pemkab Ngawi yang sejak tahun 2023 mulai memusatkan pelaksanaan karnaval di tingkat kecamatan.
"Ini turut mendorong masyarakat desa untuk berkembang dari sisi inovasi dan kreativitas," katanya.
Agus berharap karnaval ini bisa terus berlangsung setiap tahun.
Selain sebagai hiburan, karnaval juga menjadi media sosialisasi program kerja pemerintah desa kepada masyarakat, sehingga ada kesinambungan antara program desa dan Pemkab Ngawi.
Dalam pawai, Desa Puhti juga menampilkan replika tikus sebagai simbol penanganan hama tikus dalam pertanian.
"Kami mengimbau petani untuk tidak menggunakan jebakan kawat listrik karena berbahaya. Sebagai gantinya, kami menggunakan cara yang aman seperti obosan dengan LPG," ungkapnya.
Agus menegaskan bahwa selama ini warga tidak menggunakan listrik dalam pengendalian hama tikus, melainkan metode yang aman dan ramah lingkungan. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani