NGAWI, Jawa Pos Radar Ngawi – Dampak kekeringan musim kemarau tahun ini dirasakan betul oleh puluhan keluarga di Desa Banjarbanggi, Pitu, Ngawi.
Kesulitan air bersih yang dialami memaksa mereka memanfaatkan air sungai aliran Bengawan Solo yang mengalir di desa setempat.
Meski sebenarnya air yang mengalir di sungai tersebut kurang begitu bersih. Pun, belum tentu layak untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
"Sumur kering, mandi dan cuci baju di sungai," kata Wiwik Handayani, warga setempat, Jumat (23/8).
Kawasan terdampak kekeringan sejatinya tak luput dropping air bersih pemkab setempat.
Hanya saja, lanjut Wiwik, sudah tiga hari belakangan ini bantuan kiriman air bersih tak datang.
"Terpaksa mandi dan cuci baju di sungai yang kotor. Kalau untuk minum, beli, Rp 5 ribu per jeriken," ujarnya.
Hal serupa juga dialami Endang Wahyuni. Dia nekat menggunakan air sungai yang bercampur limbah di dekat rumah.
Meski, air kotor dan berbau. Itu diperparah kondisi sumur bantuan dengan air tidak layak konsumsi.
"Airnya asin dan berbau,’’ ujarnya.
Bantuan air bersih amat dinantikan warga. Sedikitnya, krisis air bersih di Desa Banjarbanggi berdampak ke 60 keluarga. (sae/den)
Editor : Budhi Prasetya