NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Belum mulai bekerja menjalankan tugasnya, anggota DPRD Ngawi periode 2024-2029 sudah didemo mahasiswa.
Tiga tuntutan yang menjadi aspirasi kalangan mahasiswa disampaikan berbarengan dengan pelantikan 45 wakil rakyat.
Aksi unjuk rasa sengaja digelar Senin (26/8) di depan Pendapa Wedya Graha Ngawi.
Sebelumnya, para mahasiswa melakukan long march dari Tugu Kartonyono. Spanduk-spandung dengan beragam tulisan dibentangkan.
"Kami mendesak DPRD Ngawi terkait tiga hal,’’ kata Erliana Puspitasari, koordinator aksi.
Pertama, soal gaduh UU Pilkada. Mahasiswa meminta rencana revisi tidak disahkan DPR RI.
Tuntutan kedua perihal kemiskinan. Yang mana, mahasiswa menilai poin tersebut merupakan persoalan serius di Ngawi.
Wakil rakyat diminta berkomitmen mengentaskan kemiskinan dan mendongkrak kesejahteraan.
"Karena Ngawi daerah miskin keenam di Jawa Timur, ini sangat memprihatinkan,’’ tegasnya.
Tuntutan ketiga, terkait jebakan tikus beraliran listrik. Tak sedikit petani yang tewas akibat penggunaan peranti pembasmi hama berbahaya itu.
“Ironi, daerah lumbung padi dengan potret miris. Petani bertaruh nyawa untuk melindungi padi,’’ tuturnya.
Dia menekankan, tiga tuntutan itu harus benar-benar dikawal. Terutama poin kedua dan ketiga karena unsur kelokalan.
"Tuntutan kami bukan sekadar aspirasi, ini cerminan permasalahan di masyarakat," ujarnya.
Di hadapan mahasiswa, Feligia Agit Hendyadi, ketua sementara DPRD setempat, mengatakan bahwa pihaknya akan serius mempertimbangkan tuntutan.
Baik terkait UU Pilkada, kemiskinan, maupun ihwal jebakan tikus beraliran listrik.
"Saya sebagai representasi anak muda sangat senang bahwa demokrasi tidak mati, ada mahasiswa yang ikut pengawasan," terangnya. (sae/den)
TIGA TUNTUTAN AKSI MAHASISWA NGAWI
- Mendesak agar rencana revisi UU Pilkada tidak disahkan
- Meminta dewan berkomitmen mengentaskan kemiskinan
- Ironi banyak petani tewas karena jebakan tikus beraliran listrik
Editor : Budhi Prasetya