NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Suasana duka dan haru bercampur jadi satu sangat terasa di tempat pemakaman umum (TPU) Kranggan, Kelurahan Margomulyo, Ngawi.
Itu terjadi saat prosesi pemakaman mendiang ayah Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi hari Selasa (17/12).
Keluarga besar Mensesneg Prasetyo Hadi larut dalam suasana duka mendalam atas kepergian Sadiran Bau Kuntjoro yang merupakan sosok pemimpin keluarga.
Kesedihan juga terasa di antara deretan pelayat yang memberikan penghormatan terakhir kepada mendiang ayah Prasetyo Hadi.
Meski tak kuasa menahan kesedihan dan duka, mensesneg kabinet Presiden Prabowo Subianto itu mencoba untuk tegar, berdiri di samping liang lahat sang ayah.
Wajahnya tertunduk dengan tangan terlipat di bawah. Pipi kakaknya, Rita Sari Herliana, banjir air mata. Sang adik, Darmawan Sutanto, tidak kuasa membendung tangis.
Di setiap gumpalan tanah yang kemudian perlahan menutup peti jenazah, tertanam doa dan kenangan almarhum.
"Pendidikan itu milik semua orang. Tidak boleh ada yang merasa dikecualikan,’’ kata Prasetyo mengenang prinsip ayahnya.
Bagi Prasetyo, ayahnya bukan hanya sosok pemimpin keluarga, namun juga guru bagi banyak orang. Sadiran mempersempahkan hidupnya untuk dunia pendidikan.
Ketua penasihat Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerindra Ngawi itu pernah menjadi guru dan kepala sekolah selama puluhan tahun.
Almarhum juga sempat dipercaya menjabat menmjadi kepala dinas pendidikan Ngawi periode 2001–2003.
"Bapak sangat peduli dengan pendidikan,’’ ujarnya.
Sadiran dikenal sebagai sosok yang gigih memperjuangkan akses pendidikan bagi anak-anak di pelosok.
Banyak sekolah di wilayah terpencil yang dibangun atas upayanya. Mendiang juga dikenal sebagai sosok ayah yang penuh kasih.
Prasetyo mengenang pesan almarhum yang selalu mendidik anak-anaknya untuk bekerja keras. Peduli kepada sesama dan bermanfaat bagi banyak orang.
"Bapak selalu bilang, lebih penting menjadi orang baik, daripada menjadi orang penting,” kenangnya.
Pemakaman Sadiran dihadiri sejumlah pejabat pemerintah pusat dan daerah. Di antaranya, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi, dan anggota DPR Budi Kanang Sulistyono.
Sadiran tutup usia di Rumah Sakit JIH Jogjakarta pada Senin (16/12) lalu. Mendiang meninggal setelah berjuang melawan penyakit stroke. (sae/cor)
Editor : Budhi Prasetya