NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Peristiwa kecelakaan beruntun di Jalan Ngawi - Maospati, masuk Desa Kedungglagah, Geneng, berbuntut panjang.
Insiden kecelakaan beruntun yang melibatkan lima kendaraan itu berawal dari pengendara sepeda motor bernama Aprilia yang terjatuh di ruas jalan tersebut.
Warga Desa Sidokerto, Karangjati, Ngawi itu mengaku tergelincir lantaran jalan licin akibat lumpur material proyek di sekitar lokasi kejadian.
Beruntung, ia yang tengah membonceng dua anak balitanya itu selamat. Bus Sugeng Rahayu yang melaju dibelakangnya sempat melakukan manuver sembari melakukan g pengereman mendadak.
Sayangnya, tindakan sigap sopir bus itu tak bisa diikuti pengemudi sejumlah kendaraan yang ada dibelakangnya.
Akibatnya, empat kendaraan roda empat terlibat dalam kecelakaan beruntun hari Minggu tanggal 5 Januari 2025 sekira pukul 13.00 WIB itu.
Tak urung, peristiwa kecelakaan di sekitar lokasi proyek pembangunan pabrik mainan itu membuat warga marah.
"Banyak kendaraan roda dua kecelakaan di sini," kata Agung Purwikanto, tokoh masyarakat setempat, Senin 6 Januari 2025.
Agung menyampaikan, sejak tiga bulan terakhir banyak kecelakaan akibat jalan licin di daerah pembangunan pabrik mainan itu.
Bahkan, dalam satu jam pernah terjadi enam kali kecelakaan roda dua di lokasi sama.
"Kami minta pemerintah segera turun tangan," ujarnya.
Warga mendesak pemerintah daerah bertindak cepat untuk menanggulangi ceceran lumpur yang dituding membuat jalan licin yang mengakibatkan sejumlah peristiwa kecelakaan tersebut.
Agung menuturkan jika ceceran lumpur itu berasal dari lalu lalang kendaraan proyek. Jika tidak ada langkah nyata, warga mengancam menggelar aksi demonstrasi menuntut penghentian pembangunan.
"Kami berharap segera ada tindakan dari instansi terkait,’’ ungkap Agung.
Pejabat Pembuat Komitmen 2.2 Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali Candra Hervin Subandriyo mengklaim pihaknya sudah bertindak jauh-jauh hari.
Mereka telah mengirimkan surat yang ditujukan kepada direktur PT GFT Indonesia Investment dan PT Sinar Mekar Jaya pada 31 Desember 2024.
Pihak berwenang atas Jalan Ngawi - Maospati itu mengaku menerima banyak laporan dan keluhan masyarakat atas kejadian kecelakaan dampak pembangunan pabrik PT GFT Indonesia Investment.
Laporan dan keluhan warga menyoroti material urukan yang berceceran di perkerasan dan bahu jalan hingga membuat licin saat hujan.
"Kami sudah meminta perusahaan agar bertanggung jawab atas kecelakaan. Juga, segera membersihan sisa material urukan dan menghentikan sementara kegiatan," kata Candra.
Sayangnya, lanjut Candra, pihak perusahaan sama sekali tidak mengindahkan surat tersebut. Kegiatan proyek hanya berhenti satu hari.
"Kami sudah tembuskan surat himbauan pembersihan itu ke polres, dishub, dan DPUPR, setempat," terangnya.
BBPJN sempat menanyakan dokumen izin akses jalan keluar-masuk kendaraan proyek.
Berupa izin yang berbeda dengan dokumen analisis dampak lalu lintas yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan.
"Terus terang, belum ada pengurusan izin sama sekali ke BBPJN Jawa Timur-Bali. Kami tanya tidak pernah direspons. Kami akan berkoordinasi dengan Polres-Pemkab Ngawi," ungkapnya.
Saat dikonfirmasi tim redaksi Jawa Pos Radar Ngawi, pihak pabrik enggan memberikan komentar. Pihak pabrik justru menunjuk pihak kontraktor proyek.
Perwakilan kontraktor Sugiharto, mengakui bahwa pihaknya belum memiliki fasilitas cuci kendaraan untuk mengurangi material lumpur yang terbawa keluar dari proyek.
"Alat pencucian kendaraan masih dalam proses pemesanan," kata Sugiharto.
Hingga saat ini, jalan sepanjang 1,5 kilometer di sekitar proyek masih terlihat ceceran material yang berisiko bagi pengguna jalan. (sae/den)
Editor : Budhi Prasetya