NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Di jantung kota Ngawi, dulu ada sebuah bangunan bersejarah yang menjadi saksi bisu perkembangan Ngawi dalam melintas zaman.
Bukti sejarah yang telah hilang itu tak lain adalah Masjid Gedhe, yang kini digantikan Masjid Agung Baiturrahman.
"Sangat disayangkan. Masjid Gedhe adalah saksi sejarah penting perjalanan Kabupaten Ngawi,” ujar Agus Fathoni, pemerhati budaya Ngawi, Senin 31 Maret 2025.
Menurut Agus, Masjid Agung Baiturrahman yang dulu memiliki arsitektur atap joglo khas Jawa merupakan simbol perkembangan Islam dan budaya di Ngawi.
Keberadaan masjid itu diyakini sudah ada sejak abad ke-19, bahkan diduga lebih tua dari yang tercatat secara resmi.
Salah satu bukti tertulis adalah berupa prasasti bertulisan Arab Pegon pada papan kayu jati berukuran 238x60 cm yang dulunya diletakkan di atas pintu masuk ruang serambi ke ruang utama.
Tulisan tersebut menyebutkan bahwa masjid didirikan oleh Kanjeng Brotodiningrat, Bupati Ngawi ke-6 yang menjabat pada 1877–1885.
Dari catatan itu, pembangunan masjid diyakini dimulai pada hari Selasa Kliwon bulan Haji tahun Be, atau bertepatan 25 November 1879.
"Ada juga prasasti lain yang memperkuat jejak sejarah masjid ini,” imbuh Agus. ‘’Bisa jadi sudah ada sejak alun-alun dibangun, setelah Perang Jawa sekitar 1830-an,” sambungnya.
Masjid Gedhe kemudian beberapa kali dipugar. Tahun 1924, tahun 1977, dan pada 1981.
Renovasi besar terjadi pada 1986–1988 di bawah Bupati Soelardjo. Dengan anggaran Rp 360 juta (Rp 200 juta swadaya dan Rp 160 juta bantuan presiden), masjid resmi dinamai Baiturrahman dan bisa menampung 3.000 jamaah.
Semua jejak fisik masjid lawas itu hilang dalam rehabilitasi besar-besaran pada 2007. Seluruh bangunan lama yang telah berusia ratusan tahun diratakan tanah.
Padahal, semula pemkab hanya berencana merehab atap. Namun, proses perbaikan berjalan di luar rencana. Seluruh bangunan utama ikut dibongkar.
Kini, yang tersisa dari bangunan asli hanyalah beberapa ornamen seperti prasasti kaligrafi, mimbar kayu jati, dan mustaka atap.
"Kalau tidak diarsipkan dan dirawat dengan baik, bisa jadi kita kehilangan seluruh jejak sejarahnya,” pungkas Agus. (sae/den)
Editor : Budhi Prasetya