Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa Langsung Kunker ke Ngawi, Optimis Produktivitas Padi Cukupi Swasembada Pangan

Asep Syaeful • Selasa, 8 April 2025 | 19:15 WIB
PRODUKTIVITAS PADI: Salah satu momen kunjungan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Ngawi, Senin 7 April 2025.
PRODUKTIVITAS PADI: Salah satu momen kunjungan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Ngawi, Senin 7 April 2025.

NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun - Produktivitas padi di Ngawi tahun 2025 dikhawatirkan mengalami penyutustan.

Hal itu lantaran tingginya curah hujan yang menyebabkan banjir merendam 450 hektare lahan padi di sejumlah kecamatan.

Namun demikian, banyak pihak masih tetap optimistis jika produktivitas padi di Ngawi masih bisa menyumbang kebutuhan pangan secara nasional.

Salah satunya adalah Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. Itu terungkap saat dirinya melakukan kunjungan kerja di Desa Kartoharjo, Ngawi, Senin 7 April 2025.

Gubernur Jatim itu tetap optimistis Ngawi bisa menyumbang ketersediaan beras untuk program swasembada pangan.

Menurut Khofifah Indar Parawansa, produktivitas padi di Ngawi tertinggi secara nasional.

Tidak heran jika selama lima tahun terakhir, Jawa Timur mencatat rekor sebagai provinsi dengan produksi padi tertinggi di Indonesia.

Capaian positif yang dicatatkan Provinsi Jawa Timur itu tak lepas dari peran besar petani dan Pemkab Ngawi.

“Kalau nasional masih membangun ketahanan pangan, maka Jawa Timur dan Ngawi secara khusus, sudah mengarah ke kedaulatan pangan,” kata Khofifah Indar Parawansa bangga.

Sementara itu, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi mengungkap dampak banjir terhadap tanaman padi milik petani.

Mereka mencatat, dua kelompok tani di Desa Purwosari, Kwadungan, mengajukan klaim asuransi usaha tani padi (AUTP) pada bulan Maret 2025 lalu.

Perinciannya, Poktan Sri Sedono dengan kerusakan 5,5 hektare dan Poktan Sri Makmur 4,25 hektare.

"Semuanya karena banjir bulan lalu, tanamannya puso," kata Kepala DKPP Ngawi Supardi.

Supardi menyampaikan, banjir dan intensitas hujan tinggi membuat padi tidak berkembang maksimal.

Apalagi saat tanaman ada di masa generatif. Selain itu, juga banyak hama dan penyakit.

"Masih bisa dipanen, namun memang kualitas maupun kuantitasnya berkurang," ujarnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur memprediksi penurunan produksi padi di Ngawi pada Subround Januari-April 2025.

Sesuai data yang dirilis 3 Maret lalu, produksi gabah kering giling (GKG) diperkirakan hanya mencapai 262 ribu ton.

Angka itu mengalami penurunan sekitar delapan ribu ton dibandingkan periode serupa tahun lalu yang mencapai 270 ribu ton.

Supardi optimistis hasil panen bisa lebih tinggi dari prediksi itu. Sebab ada sebagian lahan dengan masa tanam mundur.

Sehingga, panen raya musim tanam pertama ini masih akan berlangsung Maret, April, dan Mei.

"Insya Allah akan terkejar hingga panen Mei mendatang," terangnya. (sae/den)

Editor : Budhi Prasetya
#Khofifah Indar Parawansa #ngawi #banjir #gubernur jatim #produktivitas padi #swasembada pangan