NGAWI, Jawa Pos Radar Madiun – Sebagian petani di Desa Karangbanyu, Widodaren, Ngawi, terpaksa membajak ulang sawahnya.
Itu lantaran padi yang baru mereka tanam sekitar sebulan lalu tiba-tiba menguning, mengering, lalu mati.
Tak ingin lahannya menganggur, mereka memilih menanam ulang di musim tanam kedua tahun ini.
"Mau tidak mau tanam lagi karena tanaman rusak," kata Midi, salah satu petani setempat, Kamis 8 Mei 2025.
Midi mengaku menanam padi di lahan seluas 0,7 hektare. Namun tanaman padinya mati mendadak tanpa gejala pasti.
Serangan virus atau hama lembing diduga sebagai penyebabnya. Berbagai upaya menyelamatkan padinya berujung kegagalan.
Tanaman menguning dalam waktu singkat dan tak bisa diselamatkan. Akhirnya, dia kembali membajak lahannya dengan traktor untuk tanam ulang.
"Kerugiannya besar. Modal biaya tanam sebelumnya sudah keluar Rp 7 juta," ungkapnya.
Hal serupa dialami banyak petani lain di wilayah tersebut. Menurut Kepala Dusun Karangbanyu, Budi Santoso, ada petani yang sudah dua kali menanam ulang namun tetap gagal.
"Musim tanam kali ini hancur total. Tanaman diserang virus yang belum teridentifikasi," ujarnya.
Budi menyebutkan, kerusakan tanaman terjadi di puluhan hektare sawah. Kerugian ditaksir puluhan juta rupiah.
Dirinya berharap pemkab segera turun tangan. Melakukan identifikasi penyebab dan memberikan bantuan.
"Apalagi, sebagian besar petani menggunakan modal dari pinjaman bank untuk tanam musim kedua ini," pungkasnya. (sae/cor)
Editor : Budhi Prasetya