Jawa Pos Radar Madiun – Menjadi daerah tetangga, Ngawi juga memiliki potensi sama seperti Sragen dalam hal temuan manusia purbakala.
Sragen memiliki Sangiran, sementara di Ngawi terdapat Trinil yang dikenal sebagai salah satu situs prasejarah penting di Indonesia.
Tak heran jika Pemkab Ngawi berusaha menjadikannya sebagai identitas dengan membangun Tugu Kartoyono yang menyerupai gading gajah purba.
Situs Trinil berada di tepi Sungai Bengawan Solo yang mengalir di wilayah Ngawi. Mulai dikenal jadi tempat penemuan pertama sebagian fosil manusia purba di luar Eropa.
Informasi yang dihimpun, penemuan itu dilakukan oleh Eugène Dubois pada sekitar tahun 1891.
Fosil temuan Dubois tersebut masih menyimpan sejuta misteri karena kondisi kerangkanya tidak lengkap. Hanya kerangka tengkorak, tulang paha, dan gigi geraham.
Fosil tersebut dinamakan Pithecanthropus erectus dan menjadi bukti penting bagi teori evolusi manusia.
Secara administratif, Trinil terletak di Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar. Situs tersebut dipercaya berasal dari zaman Pleistosen Tengah, sekitar satu juta tahun yang lalu.
Di dekat situs penemuan, terdapat museum yang menampilkan fosil dan informasi tentang sejarah situs itu dan manusia purba.
Pada tahun 2019 lalu, koleksi Museum Trinil bertambah seiring penemuan fosil hewan purba oleh peneliti Universitas Leiden, Belanda.
Mereka menemukan lebih dari 50 fosil hewan yang diduga hidup ribuan tahun silam dari dasar aliran Sungai Bengawan Solo di Dusun Pilang, Desa Kawu, sekitar bulan September 2019.
Juru pelihara museum kala itu, Agus Hadiwiyanto, menyebut hingga 17 Oktober 2019 total ada sekitar tiga ribu lebih fosil yang sudah disimpan.
Ketika itu, dirinya mengatakan puluhan fosil itu adalah gading gajah berukuran 1,6 meter. Lalu ada gigi tikus, gigi buaya, gigi hiu, dan kerang.
Wilayah Ngawi dulunya diperkirakan lautan. Sebelum akhirnya menjadi rawa yang lantas mengering.
Namun, tidak menutup kemungkinan fosil biota laut itu bawaan lahar gunung berapi dari Jawa Tengah.
Indikasinya terlihat dari perbedaan warna pasir. Pasir Gunung Lawu kehitaman, sedangkan lainnya kemerahan.
"Setiap tahun ketika kemarau waktu yang tepat melakukan penelitian dan eksplorasi,’’ ujar Agus pada 17 Oktober 2019 lalu.
Sementara itu, warga setempat pernah mengatakan jika ketertarikan sejumlah peneliti datang ke Desa Kawu bukan sekedar berburu fosil seperti yang dilakukan Dubois.
Tetapi juga penasaran dengan keberadaan pohon pilang yang dinamakan Dubois. Bagi warga setempat dan peneliti, pohon itu cukup sakral.
Pasalnya, pohon tersebut disebut-sebut menjadi titik dimana Dubois menemukan ribuan fosil. Pun, usia pohon dengan diameter sekitar tiga meter itu diperkirakan lebih dari dua ratus tahun.(sib)
Editor : Budhi Prasetya