Jawa Pos Radar Madiun - Suasana sakral terasa di Desa Banyu Urip, Ngawi, Senin Legi (19/5).
Sekitar 200 warga setempat menggelar tradisi Nyadran sebagai bentuk syukur pasca panen sekaligus untuk mendoakan keselamatan bersama dan melestarikan warisan leluhur.
Kegiatan Nyadran dilakukan di dua lokasi utama yaitu punden dan sendang.
Tradisi diawali dengan bersih lingkungan, termasuk menguras sumur, dan dilanjutkan dengan ritual doa bersama yang dipimpin oleh tokoh adat.
"Nyadran ini kami laksanakan setiap usai panen raya. Selain untuk bersyukur kepada Tuhan, juga untuk mendoakan para leluhur dan keselamatan dusun," terang Sutawan, perangkat desa setempat.
Warga yang hadir membawa ambengan, yaitu wadah berisi makanan selametan.
Makanan-makanan itu kemudian dikumpulkan, diramu oleh panitia, dan dibagikan kembali secara merata kepada seluruh peserta usai ritual doa.
"Sajian dari warga dikumpulkan, diramu lalu dibagikan lagi secara merata kepada semua yang hadir," jelas Sutawan.
Tradisi ini berlangsung secara turun-temurun dan tetap lestari karena adanya dukungan dari warga dan pemerintah desa.
Bahkan, generasi muda di Banyu Urip turut aktif dalam setiap kegiatan Nyadran, termasuk menjadi bagian dari tim pelaksana acara.
Tradisi Nyadran tidak berhenti pada selamatan dan doa saja. Sehari sebelumnya warga mengadakan kenduri malam, lalu esok harinya dilakukan bersih punden dan sendang, yang ditutup dengan pertunjukan seni tari gambyong di siang harinya.
"Gambyong ini untuk mengangkat budaya lokal. Bahkan pelaku seninya berasal dari warga Dusun Banyu Urip sendiri," tambahnya.
Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh jajaran Pemerintah Desa Banyuurip dan menjadi momen kebersamaan lintas generasi.
Sutawan berharap agar Nyadran tidak hanya menjadi ikon budaya lokal, tetapi juga terus menjadi sarana memperkuat keguyuban dan solidaritas antarwarga.
"Selama ini kebersamaan warga sangat erat. Melalui Nyadran, kita rawat tradisi sekaligus menjaga kekompakan," pungkasnya. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani