Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sejarah Ngawi: Inilah Satu-Satunya Kepala Daerah Terlama di Era Tanam Paksa, Seumur Masa Jabatan Presiden Soeharto

Satrio Jati • Kamis, 29 Mei 2025 | 17:55 WIB
Ilustrasi tanam paksa di era kolonial.
Ilustrasi tanam paksa di era kolonial.

Jawa Pos Radar Madiun - Kabupaten Ngawi menyimpan banyak kisah sejarah menarik dari masa kolonial Hindia Belanda.

Salah satunya adalah sosok Raden Tumenggung Mangun Dirdjo, satu-satunya kepala daerah yang tercatat memiliki masa kepemimpinan terlama di Ngawi, yaitu selama 32 tahun.

Lama jabatannya setara masa jabatan Soeharto kala menjadi presiden RI.

Raden Tumenggung Mangun Dirdjo memimpin mulai 23 Januari 1837 hingga 1869.

Pada periode tersebut, Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) sedang gencar dilakukan oleh pemerintah kolonial.

Ia menjabat Regent Ngawi (istilah Belanda untuk jabatan bupati) tujuh tahun setelah berakhirnya Perang Diponegoro (1825–1830), menggantikan Raden Adipati Kertonegoro, bupati ke-3 Ngawi.

Pada masa itu, wilayah Ngawi masuk dalam masa peralihan dari daerah monconegoro (wilayah bawahan) Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.

Jabatan Mangun Dirdjo menandai awal pengaruh kuat kekuasaan Belanda dalam mengatur wilayah dan memobilisasi sumber daya lokal untuk mendukung program tanam paksa.

Pelaksanaan tanam paksa sangat bergantung pada kemampuan pejabat lokal.

Kala itu, Raden Tumenggung Mangun Dirdjo menjadi sosok kunci dalam menjaga stabilitas selama tiga dekade.

Masa pemerintahannya menjadi bagian penting dalam sejarah pembangunan infrastruktur pertanian dan transportasi.

Termasuk pembangunan jembatan dan jalan yang mendukung kelancaran distribusi hasil pertanian ke pelabuhan ekspor kolonial.

Pada tahun-tahun selanjutnya, terutama 1855–1863, pembagian wilayah administratif juga diperbarui seiring pertumbuhan penduduk yang signifikan.

Ini menjadi modal utama dalam pelaksanaan tanam paksa.

Menjelang akhir masa jabatannya, terjadi perubahan besar dalam kebijakan ekonomi Belanda.

Pada periode 1869–1873, sistem tanam paksa mulai dihapus dan digantikan oleh sistem ekonomi liberal yang memberi peran lebih besar kepada perusahaan swasta.

Namun, transisi ini tetap memerlukan kepemimpinan yang kuat di daerah.

Raden Tumenggung Mangun Dirdjo tetap menjabat hingga tahun 1869, menjadikannya tokoh penting dalam transisi dari era tanam paksa menuju masa ekonomi liberal.

Hingga kini, nama Mangun Dirdjo tercatat sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah pemerintahan lokal Ngawi.

Terutama karena konsistensi, stabilitas, dan perannya dalam menghadapi tekanan kebijakan kolonial. (rio/naz)

Editor : Mizan Ahsani
#yogyakarta #sejarah #bupati #belanda #tanam paksa #ngawi #kisah sejarah #kolonial