Jawa Pos Radar Madiun - Warga Desa Sembung, Kecamatan Karangjati kembali menggelar tradisi tahunan Bersih Desa atau Nyadran pada Minggu Wage, 1 Juni 2025.
Kegiatan sakral ini dilakukan sebagai wujud syukur, doa keselamatan, sekaligus melestarikan tradisi leluhur.
"Kegiatan ini untuk nguri-uri budaya sekaligus membina kebersamaan warga," ungkap Sudarto, Kepala Desa Sembung.
Rangkaian acara berlangsung selama dua hari, sejak Sabtu (31/5) hingga puncaknya pada Minggu (1/6).
Malam tirakatan diisi dengan doa bersama, dilanjutkan esok harinya dengan kerja bakti membersihkan makam leluhur.
Acara dilanjutkan selamatan tumpeng oleh seluruh masyarakat Desa Sembung untuk mendoakan arwah para leluhur, dan berdoa memohon kepada Yang Maha Kuasa agar des beserta masyarakatnya diberi keselamatan, dijauhkan dari marabahaya bencana apapun, dan diberi kesejahteraan serta kemakmuran yang melimpah.
Acara puncak dimulai pukul 13.00 WIB dengan Gambyongan atau Langen Beksan, yang menampilkan seni tari tradisional khas Jawa.
Menariknya, para pelaku seni ini berasal dari warga lokal, sebagian besar merupakan kader PKK desa.
"Pengrawit yang tampil banyak yang sudah sepuh, kami berharap ada regenerasi agar kesenian ini tetap lestari," lanjut Sudarto.
Sudarto mengaku, pihak desa telah beberapa kali mengajukan permohonan bantuan ke Pemkab Ngawi, terutama untuk pengadaan alat musik karawitan.
Namun hingga kini, bantuan tersebut belum juga terealisasi.
"Kami tidak bisa mengalokasikan Dana Desa untuk pengadaan alat karawitan. Harapannya bantuan dari pemkab bisa segera turun," ujarnya.
Ia meyakini, bila alat-alat musik tradisional tersedia, pengembangan kesenian karawitan di Desa Sembung bisa berjalan lebih optimal dan menarik generasi muda untuk terlibat. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani