Jawa Pos Radar Ngawi – Krisis ruang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Selopuro, Kecamatan Pitu, kian terasa.
Lahan open dumping seluas satu hektare yang mulai digunakan sejak empat tahun lalu kini telah penuh oleh tumpukan sampah.
Pemerintah Kabupaten Ngawi pun terpaksa memperluas area pembuangan hingga satu hektare lagi sebagai solusi darurat.
“Kami tidak punya pilihan lain selain memperluas ke sisa lahan yang ada,” ujar Kabid Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ngawi, Bulkis Hani Restu Luhur, Kamis (19/6).
Dalam sehari, DLH mencatat rata-rata 30 ton sampah dibuang ke TPA Selopuro.
Volume tersebut berasal dari 27 titik tempat pembuangan sementara (TPS) di wilayah Kecamatan Ngawi, terdiri dari 23 TPS kontainer dan 4 TPS terbuka.
Jumlah itu belum termasuk tambahan dari wilayah utara Gunung Lawu pasca-penutupan TPS di Desa Dadapan, Kecamatan Kendal.
Sebelum zona saat ini, TPA Selopuro pernah memiliki area pembuangan yang kini ditutup karena penuh, dengan timbunan sampah mencapai ketinggian 15 meter.
DLH Ngawi sejatinya telah melakukan berbagai upaya pengelolaan untuk mengurangi volume sampah.
Salah satunya adalah pengomposan limbah organik yang mampu memangkas hingga 30 persen total sampah yang masuk.
Selain itu, DLH juga menggunakan mesin conveyor untuk pencacahan sampah plastik.
Namun, upaya tersebut belum cukup meredam laju timbunan residu yang tersisa.
“Masih ada banyak residu yang tidak bisa diolah dan menumpuk. Kesadaran masyarakat untuk mengelola sampah sejak dari rumah sangat dibutuhkan,” jelas Bulkis.
Ia menekankan pentingnya pemilahan sampah rumah tangga, keikutsertaan warga dalam bank sampah, serta pemanfaatan TPS 3R (reduce, reuse, recycle) sebagai solusi jangka panjang.
Jika pengelolaan dilakukan dengan benar, kata dia, sampah bisa berubah menjadi sumber ekonomi.
Dari pupuk kompos untuk pertanian hingga barang daur ulang yang bisa dijual kembali.
“Semua bisa dimulai dari rumah. Kesadaran dan partisipasi masyarakat jadi kunci agar masalah sampah tidak semakin memburuk,” pungkasnya. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto