Jawa Pos Radar Ngawi – Hingga kemarin (24/6), kontingen Kabupaten Ngawi belum mampu menambah medali di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur IX 2025.
Posisi Ngawi masih tertahan di peringkat ke-21 dari total 38 kabupaten/kota peserta. Hanya dua emas dan dua perunggu yang dikoleksi sejauh ini—seluruhnya dari cabang olahraga (cabor) hapkido.
Tiga cabor lainnya, yakni taekwondo, balap motor, dan gastrack, belum membuahkan hasil maksimal.
“Ya, sampai saat ini sudah empat cabor selesai, tapi hanya hapkido yang bisa sumbang medali,” kata Sri Budi, Wakil Ketua KONI Ngawi.
Sri menyebut hasil tersebut harus menjadi bahan evaluasi total, terutama menyangkut aspek stamina dan teknik para atlet.
Seperti pada cabor gastrack, atlet Ngawi sampai dua kali disalip lawan (overlap).
“Ini sangat disayangkan. Performanya jauh tertinggal,” keluhnya.
Hal serupa juga terjadi di taekwondo. Dari sembilan atlet yang turun, tak satu pun mampu naik podium.
“Banyak yang terlihat kewalahan saat bertanding, stamina jadi catatan penting,” imbuh Sri.
Sementara itu, Ketua KONI Ngawi Faisol tetap menyampaikan apresiasi kepada atlet dan pelatih, meski belum menyumbangkan medali.
Ia mengungkapkan bahwa di cabor body contact, faktor nonteknis kerap jadi batu sandungan.
Faisol bahkan menengarai adanya ketidakwajaran.
“Kalau tidak menang KO, biasanya kalah. Keputusan juri sering subjektif,” katanya.
“Ada indikasi sabotase dari panitia lokal, ini tentu merugikan atlet kami,” tegasnya.
Meski begitu, Faisol masih optimistis target 20 medali emas dapat tercapai.
Pasalnya, sejumlah cabor andalan belum dipertandingkan.
Salah satunya MMA (Mixed Martial Arts) dan wushu.
“Untuk MMA, delapan atlet kami lolos semifinal dan tiga sudah pasti dapat medali. Ini jadi harapan besar untuk perbaikan posisi klasemen,” pungkasnya. (sae/her)
Editor : Hengky Ristanto