MADIUN, Jawa Pos Radar Ngawi – Sosok KH Khoirul Anam Mukmin dikenal sebagai tokoh agama sekaligus pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Hidayah di Dusun Sondriyan, Desa Majasem, Kendal, Ngawi.
Gus Anam, sapaan akrabnya, merintis pesantren itu saat krisis ekonomi 1998. Awalnya Taman Pendidikan Alquran (TPA) Al-Hidayah dengan belasan santri. Lalu, lahir Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Hidayah.
Di awal berdirinya Ponpes Al-Hidayah, jumlah santrinya hanya 70. Kini bertambah lebih dari 1.200 santri dengan jenjang pendidikan mulai PAUD hingga madrasah aliyah.
“Kami ingin memberikan pendidikan yang komprehensif, tidak hanya ilmu agama tapi juga ilmu umum dan keterampilan,” terang Gus Anam.
Di Ponpes Al-Hidayah, pendidikan agama dikolaborasikan dengan ilmu pengetahuan modern tanpa meninggalkan akar tradisi pesantren.
Lulusannya pun bisa diterima di berbagai sektor birokrasi, industri, hingga wirausaha. “Agama harus sejalan dengan kemajuan, bukan saling menafikan,” tegasnya.
Tidak hanya pendidikan formal, pondok ini juga mengembangkan program nonformal. Untuk bidang agama, tersedia tahfidz, tahsin, tarjamatul Quran, hingga bahtsul kutub.
Sementara di bidang keterampilan, tersedia pelatihan digital, koperasi pondok, produksi air minum kemasan, hingga usaha fesyen dan budidaya ikan lele.
Semua itu lahir dari kerja keras dan visi besar Gus Anam dan keluarga.
Dedikasinya menjadikan pesantren sebagai pusat pendidikan yang mandiri dan berdaya saing, membuatnya layak disebut sebagai pemimpin visioner yang membawa perubahan nyata di Ngawi. (ifa/cor/*)
Editor : Andi Chorniawan