Jawa Pos Radar Madiun - Desa Girikerto, Kecamatan Sine, Kabupaten Ngawi berhasil menciptakan inovasi ekonomi berbasis budaya melalui even Pasar Jajal Wae.
Digelar saban Minggu Pon di wanawisata Sumber Koso, pasar tradisional ini tak hanya menarik wisatawan lokal, tapi juga luar daerah.
Kepala Desa Girikerto, Slamet Riyadi menjelaskan, konsep pasar jadul ini merupakan hasil studi dan riset mendalam, termasuk studi banding ke Pasar Papringan di Jawa Tengah.
“Kala itu ada pendamping yang memfasilitasi untuk studi banding ke sana, lalu setelah itu kami coba adakan sendiri dan bisa rutin sampai sekarang,” ujarnya.
Pasar Jajal Wae kini sudah memasuki gelaran ke-15. Even ini diselenggarakan setiap Minggu Pon, selaras dengan perhitungan adat Kejawen yang masih dipegang masyarakat.
“Kami menghormati dan menjujug adat yang berlaku di masyarakat Girikerto dan ini sudah menjadi kesepakatan bersama,” tambah Slamet.
Beragam makanan tradisional khas Girikerto dijajakan oleh para pedagang. Uniknya, seluruh kemasan makanan wajib menggunakan daun sebagai wadah, bukan plastik.
Sedangkan sistem transaksi tetap menggunakan mata uang biasa, bukan koin khusus seperti di pasar tematik lainnya.
“Untuk wadah makanan dilarang menggunakan plastik, tapi memakai daun,” tegas Slamet.
Pada awalnya, pasar ini hanya diikuti oleh 15 pedagang. Kini, jumlahnya telah meningkat menjadi 30 pedagang aktif, belum termasuk pedagang tetap di kawasan wisata.
"Dari sisi PAD sangat membantu dan warga lebih produktif," ujarnya.
Slamet juga menekankan bahwa Pasar Jajal Wae terbuka untuk semua warga yang ingin berpartisipasi.
Semakin banyak keterlibatan warga, semakin kuat pula dampak ekonominya.
“Kedepan kami akan berupaya untuk menyempurnakan agar even yang dilaksanakan sebulan sekali ini bisa lebih semarak dan ramai pengunjung,” pungkasnya. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani