Jawa Pos Radar Ngawi – Ratusan bungkus nasi beterbangan di Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, Sabtu (27/9).
Tradisi perang nasi yang digelar saban tahun itu menjadi ungkapan syukur warga atas hasil panen.
Puluhan pemuda dan anak-anak riang gembira saling lempar nasi lengkap dengan lauk-pauknya.
Tidak ada yang marah meski tubuh berlumuran nasi.
’’Ini wujud syukur masyarakat atas panen melimpah,’’ kata Kepala Desa Pelang Lor Hariyana.
Tradisi diawali dengan warga membawa dua hingga lima bungkus nasi dari rumah masing-masing.
Nasi dikumpulkan, didoakan bersama, lalu dijadikan “amunisi” perang.
Kurang dari 30 menit, nasi yang semula tertumpuk habis berserakan di tanah.
Menariknya, penonton di sekitar lokasi juga menjadi sasaran lemparan.
Beberapa ibu memunguti nasi yang tercecer untuk pakan ternak.
’’Walaupun dilempar, tetap dipunguti untuk makanan hewan,’’ ujar Hariyana.
Seorang pengunjung, Devit Evra, mengaku terhibur.
’’Seru banget. Saya baru pertama kali melihat tradisi ini, meski agak sayang nasinya,’’ katanya.
Konon, tradisi ini berawal dari rebutan nasi saat acara bersih desa.
Dari aksi berebut itu, lahirlah tradisi lempar nasi yang terus dilestarikan hingga kini. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto