Jawa Pos Radar Madiun - Pemdes Klampisan, Kecamatan Geneng, bersama BUMDes Rukun Makmur resmi mengubah lahan Tanah Kas Desa (TKD) yang selama puluhan tahun ditanami tebu menjadi lahan padi.
Program ini dijalankan sebagai bagian dari instruksi Presiden terkait Ketahanan Pangan (Ketapang).
Sekretaris Desa Klampisan, Widhi, menjelaskan penanaman perdana dilakukan pada Rabu (1/10) dengan diawali prosesi selamatan tandur atau tradisi doa bersama sebelum menanam padi.
“Sudah puluhan tahun TKD ini jadi ladang tebu. Mulai sekarang kami tanami padi dalam program Ketapang yang dikelola BUMDes Rukun Makmur,” ujarnya.
Penanaman padi dijadwalkan berlangsung tiga hari dengan total luas lahan sekitar dua hektare.
Hari pertama dikerjakan warga Dusun Klampisan, kemudian dilanjutkan oleh tim dari Dusun Dongol.
Skema ini sekaligus menjadi bentuk pemberdayaan warga lokal.
Untuk metode, digunakan dua teknik tanam yakni Jajar Legowo dan Tegel.
“Penerapan ini untuk membandingkan hasil produktivitas agar di musim tanam berikutnya bisa dipilih cara paling efektif,” tambah Widhi.
Produktivitas pertanian di Klampisan sejauh ini cukup baik.
Rata-rata satu hektare lahan menghasilkan enam ton gabah, meski kondisi tanah masih belum ideal karena pH berada di angka 4–5 akibat penggunaan pupuk kimia dalam jangka panjang.
Pemdes kini mulai menerapkan PRLB (Pengelolaan Ramah Lingkungan Berkelanjutan) untuk mengembalikan kesuburan tanah.
Widhi optimistis lahan eks tebu akan memberikan hasil panen lebih baik. Kandungan sisa organik dari tanaman tebu diyakini mampu mempercepat pertumbuhan padi.
“Untuk pupuk subsidi tersedia cukup. Pengendalian hama tikus juga dilakukan dengan sistem gropyokan dan obat-obatan,” jelasnya. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani