Jawa Pos Radar Ngawi – Layanan darurat bukan untuk bahan candaan. Namun, masih ada warga yang iseng.
Dalam sebulan terakhir, Satpol PP dan Damkar Ngawi menerima sedikitnya dua laporan palsu kebakaran.
“Sering sekali kami menerima telepon yang mengaku ada kebakaran. Itu sangat merugikan,” kata Farizal Kukuh, anggota Damkar Ngawi, Sabtu (18/10).
Ia menuturkan, petugas selalu menerapkan prinsip fast response karena setiap detik berharga dalam penyelamatan nyawa maupun harta benda.
“Cuma prank. Masyarakat harus sadar, jangan jadikan layanan darurat sebagai bahan candaan,” tegasnya.
Akibat laporan palsu, petugas kini lebih berhati-hati sebelum bertindak.
Setiap laporan dicek lebih dulu dengan meminta foto kejadian dan share location dari pelapor.
Langkah ini disertai koordinasi dengan relawan dan perangkat desa untuk memastikan kebenaran informasi.
“Kalau laporan dari pihak resmi atau orang yang sudah dikenal, kami langsung bergerak,” ungkapnya.
Farizal mengingatkan, laporan palsu bisa berakibat fatal.
Saat petugas dikerahkan ke lokasi fiktif, ada potensi keterlambatan menangani kebakaran yang sebenarnya.
“Ini menyangkut keselamatan banyak orang. Tolong jangan main-main dengan layanan darurat,” pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto