Jawa Pos Radar Madiun – Pemerintah Desa Kendal, Kecamatan Kendal, terus berupaya menjaga produktivitas pertanian di tengah ancaman kekeringan.
Meski berada di kaki Gunung Lawu, pasokan air di sejumlah lahan pertanian desa ini masih terbatas.
Untuk mengatasinya, Pemdes membangun 11 sumur bor pertanian yang kini telah beroperasi normal.
Selain itu, masih ada 6 sumur yang sedang proses pengerjaan.
Kepala Desa Kendal, Suwarno, mengatakan pembangunan sumur bor menjadi program prioritas karena kebutuhan air sangat vital bagi petani.
“Sampai saat ini kami sudah memiliki sekitar 17 sumur bor yang dimanfaatkan petani untuk mencukupi pengairan sawah,” ujarnya.
Menurut Suwarno, keberadaan sumur bor membuat petani bisa panen hingga tiga kali dalam setahun.
Sistem pengelolaan air dilakukan secara kolektif dengan biaya di bawah harga standar agar tidak memberatkan.
Dengan infrastruktur air yang stabil, ia optimistis kekhawatiran petani terhadap kelangkaan air bisa teratasi.
“Jadi siklus tanam lebih pasti, hasil panen meningkat, dan kesejahteraan petani ikut terdongkrak,” katanya.
Suwarno menegaskan, pembangunan infrastruktur publik dan sektor pertanian adalah dua program utama yang harus berjalan seimbang.
“Keberhasilan pertanian berbanding lurus dengan kesejahteraan warga,” tambahnya.
Ia menjelaskan, produksi pertanian yang stabil di desa dapat dicapai melalui sinergi faktor penting, meliputi pemanfaatan sumber daya alam, inovasi teknologi, praktik berkelanjutan, serta gotong royong masyarakat.
“Ketika petani bisa panen tiga kali dan menjual hasilnya dengan baik, uang akan berputar di desa. Daya beli naik, warung ramai, dan ekonomi lokal bergerak,” tandasnya.
Menurut Suwarno, keberhasilan sektor pertanian menjadi bukti bahwa investasi di bidang dasar bisa menciptakan efek domino positif bagi perekonomian desa. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani