Jawa Pos Radar Ngawi – Penurunan harga eceran tertinggi (HET) pupuk subsidi jadi tantangan baru bagi program pertanian ramah lingkungan dan berkelanjutan (PRLB) di Ngawi.
Pemkab diminta lebih serius menjaga semangat petani agar tidak kembali bergantung pada pupuk kimia.
Kabid Tanaman Pangan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Ngawi M. Hasan Zunairi menilai, harga pupuk subsidi yang kini lebih murah bisa menggoda petani meninggalkan pola tanam organik.
‘’Penurunan HET pupuk subsidi itu ibarat dua mata pisau. Satu sisi membuat petani senang, tapi sisi lain bisa melemahkan motivasi mempertahankan PRLB,’’ ujarnya, Rabu (29/10).
HET baru pupuk subsidi yang mulai berlaku: Urea Rp1.800/kg, NPK Rp1.840/kg, dan organik Rp640/kg.
Harga itu dianggap menguntungkan petani, tetapi berpotensi menurunkan minat beralih ke pupuk alami.
PRLB sendiri dirancang sebagai solusi keterbatasan pupuk subsidi dan penurunan kualitas tanah akibat penggunaan bahan kimia jangka panjang.
Sejak diterapkan, luas lahan PRLB meningkat signifikan dari 718 hektare pada 2021 menjadi 20.217 hektare pada 2025.
Produksi gabah kering giling (GKG) mencapai 140.912 ton dengan produktivitas rata-rata 6,97 ton per hektare.
Selain ramah lingkungan, PRLB terbukti efisien secara ekonomi.
Data DKPP mencatat, biaya produksi hemat hingga 40–50 persen, sementara struktur tanah lebih gembur dan subur.
“Kami ingin PRLB menjadi gerakan kolektif antara pemerintah, kelompok tani, dan komunitas pertanian organik untuk memulihkan ekologi tanah,” pungkas Hasan. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto