Jawa Pos Radar Ngawi – Musim entung jati kembali membawa berkah bagi warga Desa Bangunrejo Lor, Pitu.
Dua pekan terakhir, geliat perburuan serangga musim hujan itu meningkat.
Selain sebagai lauk harian, entung jati juga menjadi sumber pendapatan tambahan bagi warga.
’’Kalau sedang banyak, cepat habis karena peminatnya tinggi,’’ ujar Yeyen, warga setempat, kemarin (18/11).
Entung jati berasal dari ulat pemakan daun jati yang turun ke tanah untuk membuat sarang sebelum bermetamorfosis menjadi kupu-kupu.
Prosesnya cepat, hanya sekitar sepekan.
Fenomena ini rutin muncul setiap musim hujan dan selalu disambut antusias warga.
Bagi sebagian warga, keberadaan entung jati bukan hanya pengisi piring, tetapi juga penambah isi dompet.
Yeyen mengaku bisa menjual hingga 10 kilogram per hari saat stok melimpah.
Harga dipatok Rp 15 ribu per gelas belimbing, lima gelas setara satu kilogram.
’’Kalau dapat banyak, bisa sampai Rp 750 ribu sehari,’’ ungkapnya.
Meski tinggi protein dan aman dikonsumsi, Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi mengingatkan agar masyarakat tetap bijak.
Sri Surantini, ahli gizi Dinkes Ngawi, menyebut konsumsi berlebihan dapat memicu alergi seperti gatal, mual, atau muntah.
’’Tetap bisa dikonsumsi, tetapi sedikit demi sedikit agar tubuh terbiasa,’’ ujarnya. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto