Jawa Pos Radar Madiun - Tradisi saling melempar nasi di Desa Pelang Lor, Kecamatan Kedunggalar, kembali digelar sebagai bentuk syukur warga atas hasil panen yang melimpah.
Ritual tahunan yang akrab disebut “perang nasi” itu berlangsung meriah pada Sabtu Pahing bulan September lalu, sesaat setelah masa panen berakhir.
Puluhan pemuda hingga anak-anak tampak riang gembira saling melontarkan nasi lengkap dengan lauk-pauknya tanpa ada rasa marah atau dendam, meski tubuh mereka berlumuran makanan.
Kepala Desa Pelang Lor, Hariyana, mengatakan bahwa tradisi tersebut telah berlangsung selama puluhan tahun dan menjadi bagian penting dalam peringatan bersih desa.
“Ini wujud rasa syukur masyarakat atas panen yang melimpah,” jelasnya.
Ia menuturkan, bukan hanya peserta yang menjadi sasaran lemparan nasi, tetapi penonton di sekitar lokasi juga kerap terkena “serangan”.
Sementara itu, sejumlah ibu-ibu sigap memunguti nasi yang berceceran untuk dibawa pulang sebagai pakan ternak.
Dalam waktu kurang dari 30 menit, ratusan bungkus nasi yang sebelumnya ditumpuk rapi langsung tercerai-berai di tanah.
“Walaupun dilempar-lempar, nasi yang jatuh tetap dipunguti, biasanya untuk makan hewan ternak di rumah,” tambah Hariyana.
Sebelum perang nasi dimulai, warga lebih dulu mengumpulkan nasi bungkus yang mereka bawa dari rumah, umumnya dua hingga lima bungkus per kepala keluarga.
Setelah itu nasi didoakan bersama, barulah digunakan sebagai “amunisi” dalam tradisi tersebut.
“Ini tradisi turun-temurun. Tidak ada yang sakit hati atau terluka. Dulu nasi dibagikan ke warga kurang mampu, sekarang bentuknya berubah jadi perang nasi,” ungkapnya.
Konon, perang nasi berawal dari kebiasaan warga yang saling berebut karena takut tidak kebagian saat acara bersih desa.
Dari aksi berebut itulah muncul kebiasaan saling melempar yang kemudian dilestarikan hingga sekarang. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani