Jawa Pos Radar Ngawi – Kondisi kesejahteraan guru di Ngawi belum merata.
Ratusan guru latihan kerja (latker) masih berada di luar skema kepegawaian ASN maupun PPPK.
Status tersebut membuat gaji yang mereka terima bergantung pada kemampuan sekolah masing-masing.
Kabid Pemetaan dan Distribusi Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PDPTK) Dikbud Ngawi, Lantik Aji Kusuma, menyebutkan terdapat sekitar 300 guru latker hingga saat ini.
“Masih ada sekitar 300 guru latker,” ujarnya, kemarin (24/11).
Sementara total guru berstatus ASN dan PPPK di Ngawi mencapai 4.675 orang. Rinciannya 2.345 PNS, 2.327 PPPK penuh waktu, dan tiga PPPK paruh waktu.
Terkait masa depan ratusan guru non-ASN tersebut, Lantik menyebut pihaknya masih menunggu arah kebijakan pemerintah pusat.
Termasuk apakah akan ada skema baru bagi guru PPPK paruh waktu maupun opsi pengangkatan bagi guru latker.
“Apakah nanti ada opsi mengangkat paruh waktu atau bagaimana, kami belum tahu,” jelasnya.
Dia menegaskan bahwa penggajian guru latker sepenuhnya bergantung pada kemampuan lembaga pendidikan tempat mereka mengajar.
Dana BOS menjadi sumber utama pembayaran honorer di sekolah, dan besarannya berbeda di tiap lembaga.
“Guru non-ASN itu tergantung kemampuan lembaga dalam menggaji,” lanjutnya.
Lantik menilai status kepegawaian yang lebih jelas akan berdampak signifikan bagi motivasi dan kualitas pengajaran.
“Insya Allah kualitas pembelajaran semakin meningkat,” pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto