Jawa Pos Radar Madiun – Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi meningkatkan kewaspadaan setelah mencatat 106 kasus HIV sepanjang Januari–Oktober 2025.
Dari jumlah tersebut, empat di antaranya merupakan anak di bawah 18 tahun.
“Angka itu tergolong tinggi meski menurun dibanding tahun 2024 yang mencatat 116 kasus baru,” ujar Koordinator Program KMS HIV/AIDS Dinkes Ngawi, Ririn Novianti, Rabu (3/12).
Untuk menekan penularan, edukasi di seluruh fasilitas kesehatan (faskes) diperkuat.
Dinkes juga terus memantau mutu layanan HIV di puskesmas dan rumah sakit, agar pasien memperoleh perawatan sesuai standar.
Saat ini, Ngawi memiliki 24 puskesmas dan tiga rumah sakit yang memberikan layanan HIV.
Namun baru 15 faskes yang mampu menangani Perawatan, Dukungan, dan Pengobatan (PDP) bagi ODHA.
Deteksi dini dilakukan lewat program mobile voluntary counseling and testing (VCT), yang memungkinkan masyarakat mengikuti tes HIV secara sukarela.
Skrining HIV bagi ibu hamil juga menjadi program wajib agar penularan vertikal dapat dicegah.
“Masyarakat bisa ikut tes secara sukarela atau melalui program pemerintah untuk ibu hamil,” ujar Ririn.
Meski HIV belum dapat disembuhkan, terapi antiretroviral (ARV) mampu mengendalikan perkembangan virus.
Pasien yang patuh minum ARV berpeluang menekan viral load hingga sangat rendah sehingga risiko penularan ikut berkurang.
“Semoga masyarakat semakin sadar pentingnya deteksi dini,” kata Ririn. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto