Jawa Pos Radar Ngawi – Puluhan karung berisi limbah campuran kotoran hewan ditemukan menumpuk di tepi Jalan Raya Ngawi–Solo, masuk Desa Kauman, Widodaren.
Temuan dengan aroma menyengat itu langsung ditangani Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Ngawi, Rabu (3/12).
Petugas menyemprot cairan disinfektan sebelum mengubur limbah tersebut untuk meredam bau yang selama sepekan dikeluhkan warga.
Seluruh karung kemudian ditimbun di lahan Perhutani yang berada di seberang lokasi pembuangan.
“Tidak hanya menimbulkan bau, tetapi juga memicu populasi lalat di permukiman,” ujar anggota DPRD Ngawi Agung Rizkina Pramesti.
Esti –sapaan Agung– mendapatkan laporan dari warga soal tumpukan limbah tersebut.
Aroma busuk yang awalnya diduga kotoran babi mengganggu masyarakat dan pengguna jalan.
Pihaknya langsung berkoordinasi dengan DLH Ngawi.
Upaya membawa ke TPA tidak dapat dilakukan karena limbah bukan kategori domestik dan tidak dapat diolah ulang.
“Kami mencari opsi yang aman. Setelah koordinasi dengan Perhutani, limbah bisa dikubur di area hutan,” katanya.
Esti meminta pemerintah memasang penerangan dan CCTV di lokasi, mengingat area itu gelap pada malam hari.
“Kalau tidak ada tindak lanjut, bukan tidak mungkin kejadian serupa terulang lagi,” tegasnya.
Ahli Pengawas Lingkungan Hidup Muda DLH Ngawi Anik Krisnawati memastikan limbah tersebut merupakan campuran kotoran hewan.
Banyaknya belatung dan aroma menyengat menjadi indikasi awal.
“Kalau ingin memastikan jenisnya, bisa diuji laboratorium. Yang jelas bukan limbah domestik,” terangnya.
Anik menduga limbah berasal dari aktivitas peternakan tanpa instalasi pengolahan air limbah (IPAL).
Pembuangan dilakukan di lokasi gelap agar tidak diketahui warga.
“Kami akan memperketat pengawasan agar insiden serupa tidak terjadi lagi,” kata Anik. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto