Jawa Pos Radar Ngawi – Jumlah korban keracunan massal di Mantingan terus bertambah.
Total 220 warga—didominasi anak-anak—dilaporkan mengalami gejala keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Rabu pagi (3/12).
Hingga Jumat (5/12), sebanyak 50 anak masih menjalani perawatan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Ngawi Heri Nur Fahrudin mengatakan seluruh korban menunjukkan gejala yang hampir sama: sakit perut, pusing, diare, dan muntah.
Para pasien dirawat di dua fasilitas kesehatan terdekat, yakni RSUD Mantingan dan Puskesmas Mantingan.
“Total 220 kasus. Hingga hari ini masih ada 50 anak yang dirawat. Sebanyak 15 rawat inap di RSUD Mantingan untuk rehidrasi dan 35 dirawat di Puskesmas,” jelas Heri.
Dinkes telah mengambil sampel menu MBG untuk diuji di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya.
Proses pemeriksaan membutuhkan waktu sekitar 7–10 hari.
“Kita tunggu hasil resminya. Nanti diketahui penyebab pasti keracunan,” ujar Heri.
Heri menegaskan perlunya penyegaran kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) agar memperketat tata kelola makanan, mulai dari proses produksi hingga distribusi.
“Ditekankan agar pengolah makanan lebih berhati-hati. Jangan sampai makanan yang disiapkan membahayakan adik-adik kita,” tegasnya.
Terkait wacana penghentian operasional dapur SPPG, Heri mengatakan keputusan tersebut bukan kewenangan dinkes.
Namun pihaknya tetap memberikan rekomendasi sesuai hasil pengecekan lapangan.
Kasus keracunan ini juga berdampak pada kegiatan belajar.
Di SDN Mantingan 2, belasan siswa tidak dapat mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) karena harus menjalani perawatan. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto