Jawa Pos Radar Ngawi – Fakta baru penyebab keracunan puluhan siswa usai menyantap menu makan bergizi gratis (MBG) di Ngawi akhirnya terungkap.
Hasil uji laboratorium Balai Besar Laboratorium Kesehatan (BBLK) Surabaya memastikan dua menu dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kawu mengandung bakteri nitrit.
Menu yang dinyatakan bermasalah yaitu sayur acar wortel–labu dan buah pisang.
’’Hasil pemeriksaan BBLK Surabaya, dua menu positif mengandung bakteri nitrit,’’ kata Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono yang juga ketua satgas SPPG, kemarin (9/12).
Ony menegaskan bahwa temuan itu menjadi peringatan keras bagi seluruh pengelola dapur MBG.
Evaluasi dilakukan menyeluruh untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.
’’Satgas meminta seluruh pengelola SPPG memperketat kepatuhan terhadap prosedur teknis penyelenggaraan MBG di lapangan,’’ terangnya.
Prosedur yang dimaksud mencakup seluruh rantai penyediaan makanan, mulai dari pembelian bahan baku, proses penyiapan, pemasakan, hingga penyajian dan pendistribusian ke penerima manfaat.
Ony mengingatkan bahwa setiap dapur MBG wajib memiliki sertifikat Standar Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebelum beroperasi.
’’Setiap pengelola wajib memastikan sertifikat SLHS telah diterbitkan oleh dinas terkait,’’ ujarnya.
Proses verifikasi SLHS melibatkan sejumlah instansi, mulai dari dinas kesehatan, pekerjaan umum dan penataan ruang, hingga dinas lingkungan hidup.
Mereka berwenang menilai kelayakan sanitasi dapur dan memberi rekomendasi sebelum sertifikat diterbitkan.
Pemkab menekankan pentingnya standar keamanan pangan, apalagi program MBG menyasar anak-anak usia sekolah yang rentan.
’’Standar keamanan pangan harus dijalankan ketat pada setiap proses penyediaan makanan untuk siswa,’’ pungkas Ony. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto