Jawa Pos Radar Ngawi – Tradisi Keduk Beji kembali digelar di Sendang Beji, Desa Tawun, Selasa (9/12).
Ratusan warga turut terlibat membersihkan sendang sebagai bentuk pelestarian budaya dan upaya menjaga keberlanjutan sumber air.
’’Air untuk irigasi dan kebutuhan lain dibersihkan agar tidak tersumbat,’’ ujar Putut, juru silem Sendang Beji.
Tradisi ini tidak lepas dari kisah turun-temurun tentang Eyang Ludro Joyo, putra prajurit Majapahit Ki Agung Mentawon.
Konon, pada masa kekeringan ia masuk hutan dan hilang tanpa jejak.
Lokasi itu diyakini menjadi titik kemunculan sumber air yang hingga kini tetap deras, bahkan pada musim kemarau.
’’Di bawah itu seperti sungai bawah tanah. Gua-nya bercabang ke barat dan timur,’’ jelas Putut.
Wakil Bupati Ngawi Dwi Rianto Jatmiko menegaskan Keduk Beji bukan sekadar ritual bersih sendang, melainkan simbol keguyuban, gotong royong, dan kecintaan warga terhadap alam.
’’Mata air ini tetap mengalir sepanjang masa karena dijaga bersama,’’ ungkapnya.
Pemkab Ngawi mendukung penuh agar tradisi itu masuk dalam kalender wisata daerah.
Selain melestarikan seni dan budaya, atraksi seperti nyilem, larung sesaji, tari kecetan, rebutan gunungan, hingga uyon-uyon diyakini mampu menggerakkan ekonomi warga, terutama pelaku UMKM.
’’Menjaga alam juga berdampak pada ekonomi masyarakat,’’ katanya.
Warga Desa Tawun kompak mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Antusiasme masyarakat menjadi bukti bahwa Keduk Beji masih memiliki tempat penting dalam kehidupan sosial dan budaya mereka.
’’Antusiasnya luar biasa, semua ikut bergotong royong,’’ tutur Wahyudi, warga setempat. (ululrubiyatun/sae/den)
Editor : Hengky Ristanto