Jawa Pos Radar Ngawi – Potensi cuaca ekstrem di Kabupaten Ngawi diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir tahun 2025.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ngawi meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan menyusul kemunculan Bibit Siklon Tropis 96S di Samudra Hindia selatan Nusa Tenggara Barat.
Kasi Kedaruratan BPBD Ngawi Partoyo mengatakan, berdasarkan informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Bibit Siklon Tropis 96S memiliki peluang sedang berkembang menjadi siklon tropis dalam beberapa jam ke depan.
Sistem cuaca tersebut berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Timur.
“Dampak tidak langsung dari bibit siklon tersebut sudah mulai dirasakan di wilayah Ngawi, terutama berupa hujan lebat dan angin kencang dalam beberapa hari terakhir,” kata Partoyo, kemarin (28/12).
BPBD Ngawi terus meningkatkan kesiapsiagaan dengan memantau perkembangan cuaca secara berkala serta menyiagakan personel Tim Reaksi Cepat (TRC) di sejumlah titik rawan bencana.
Dalam dua hari terakhir, BPBD mencatat beberapa kejadian pohon tumbang akibat cuaca ekstrem.
Berdasarkan laporan Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Ngawi, pohon tumbang sempat menutup akses Jalan Raya Randublatung–Ngawi di wilayah Cengklik, Bangunrejo Lor, Kecamatan Pitu, Sabtu dini hari.
Selain itu, kejadian serupa juga terjadi di Jalan Raya Ngawi–Solo, Desa Plang Lor, Kecamatan Kedunggalar, serta di Jalan Raya Kendung, Desa Kendung, Kecamatan Kwadungan.
“Tim TRC BPBD langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan asesmen sekaligus pengondisian agar akses jalan bisa kembali dilalui,” jelas Partoyo.
BPBD Ngawi mengimbau masyarakat agar menghindari berteduh di bawah pohon besar saat hujan dan angin kencang.
Warga juga diminta segera melaporkan kondisi darurat ke Pusdalops BPBD Ngawi agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin.
“Kami juga meminta warga untuk memastikan lingkungan sekitar aman, memangkas pohon yang berpotensi tumbang, dan selalu mengikuti informasi resmi cuaca dari BMKG,” pungkasnya. (sae/her)
Editor : Hengky Ristanto