Jawa Pos Radar Ngawi – Angka stunting di Kabupaten Ngawi masih berada di level dua digit.
Meski menunjukkan tren penurunan, persoalan gizi kronis tersebut menjadi pekerjaan rumah serius pemerintah daerah.
“Karena targetnya adalah zero stunting,” kata Kepala Dinas Kesehatan Ngawi Heri Nur Fahrudin, kemarin (11/1).
Heri menyebut prevalensi stunting di Ngawi tahun lalu tercatat 11,4 persen.
Angka tersebut menurun dibanding periode sebelumnya yang mencapai 14,7 persen.
Kendati demikian, upaya pencegahan dan penanganan terus diperkuat agar kasus stunting dapat ditekan hingga nol.
“Baik melalui intervensi spesifik maupun preventif,” ujarnya.
Intervensi spesifik difokuskan pada balita dengan kondisi stunting berat.
Langkah yang dilakukan meliputi pemberian makanan tambahan (PMT), perawatan di rumah sakit, serta pemberian nutrisi dan multivitamin di bawah pengawasan dokter spesialis.
Sementara itu, intervensi preventif dilakukan sejak usia remaja.
Dinas Kesehatan Ngawi mencatat sekitar 10 persen remaja putri memiliki kadar hemoglobin di bawah normal.
“Anemia pada remaja putri berisiko melahirkan generasi stunting di kemudian hari,” ucap Heri.
Pendampingan juga dilakukan terhadap calon pengantin melalui pemeriksaan kesehatan sebelum menikah.
Setelah itu, pendampingan berlanjut pada ibu hamil melalui layanan posyandu dan puskesmas hingga masa nifas.
“Pendampingan berlanjut sampai masa nifas karena kondisi ibu setelah melahirkan juga berpengaruh terhadap tumbuh kembang anak,” pungkasnya. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto