Jawa Pos Radar Madiun – Aksi tanam pohon pisang di lubang Jalan Ngawi–Solo kembali terjadi.
Setelah sebelumnya dilakukan pemuda Desa Sriwedari, Karanganyar, kini giliran warga Desa Kauman, Kecamatan Widodaren, melakukan protes serupa, Senin (19/1).
Tujuannya sama: memperingatkan bahaya jalan rusak bagi pengendara.
Merespons aksi tersebut, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Jawa Timur–Bali (BBPJN) Kementerian Pekerjaan Umum langsung turun tangan melakukan perbaikan.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 2.2 BBPJN Jatim–Bali Candra Hervin Subandriyo menjelaskan, penanganan dilakukan menggunakan metode cold milling machine.
“Aspal yang rusak dikelupas lalu diganti aspal baru dengan ketebalan sekitar lima sentimeter,” ujarnya.
Candra mengakui, pada musim hujan banyak lubang jalan bermunculan.
Untuk mempercepat penanganan, BBPJN mengerahkan empat tim perbaikan di wilayah Ngawi barat.
Tiga tim fokus penambalan rutin, sementara satu tim khusus menangani ruas Kauman menggunakan cold milling machine di Jalan Ngawi–Solo masuk Desa Kauman, Widodaren.
“Total ada empat tim perbaikan yang kami terjunkan di wilayah Ngawi barat, termasuk lokasi Kauman ini,” tambahnya.
Menurutnya, kerusakan jalan nasional dipicu dua faktor utama: cuaca ekstrem dan tingginya kendaraan over dimension over loading (ODOL).
Sesuai ketentuan, jalan nasional diperuntukkan bagi kendaraan dengan beban maksimal 10 ton.
“Di lapangan kami temukan kendaraan bermuatan di atas 10 ton, bahkan ada yang mencapai 20 hingga 30 ton,” ungkapnya.
Karena itu, BBPJN mendorong pengaktifan kembali jembatan timbang di Jawa Timur untuk menekan pelanggaran muatan dan mencegah kerusakan berulang.
“Selama kendaraan ODOL masih melintas di jalan nasional, meskipun diperbaiki, kerusakan pasti akan terjadi kembali,” pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto