Jawa Pos Radar Ngawi – Beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Selopuro, Kecamatan Pitu, kian berat.
Volume sampah yang masuk menunjukkan tren peningkatan sejak akhir tahun lalu.
Dari rata-rata 30 ton per hari, kini melonjak menjadi sekitar 35 ton per hari.
Penutupan TPA Dadapan, Kecamatan Kendal, menjadi pemicu utama kenaikan tersebut.
Seluruh sampah dari wilayah itu kini dialihkan ke Selopuro.
“Otomatis semua sampah dari wilayah tersebut dibawa ke Selopuro. Itu yang membuat volume harian meningkat,” kata Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Ngawi Bulkis Hani Restu Luhur, Selasa (20/1).
Menurut Bulkis, penutupan TPA Dadapan dilakukan setelah pengelolaan asetnya beralih dari Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) ke DLH pada November lalu.
Selain kapasitasnya telah terlampaui, lokasi tersebut dinilai tidak memenuhi persyaratan teknis.
“Letaknya terlalu dekat dengan jalan besar dan aliran sungai. Sistem pengelolaannya juga masih open dumping, sampah hanya ditumpuk tanpa pengolahan,” ujarnya.
Aspek keamanan turut menjadi pertimbangan. TPA Dadapan yang terbuka dan berada di jalur lalu lintas dinilai rawan disalahgunakan.
Bahkan, lokasinya sempat dikaitkan dengan kasus tindak pidana pada awal tahun lalu.
Sebagai langkah antisipasi, DLH memasang satu kontainer sebagai tempat penampungan sementara di area TPA Dadapan.
Sampah dari kontainer tersebut kemudian diangkut secara berkala ke TPA Selopuro.
“Tahun depan kami rencanakan penambahan satu kontainer lagi agar kapasitas tampung sementara lebih besar,” pungkas Bulkis. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto