Jawa Pos Radar Madiun - Erosi Sungai Bengawan Madiun di Desa Banjaransari, Padas, kian mengkhawatirkan.
Ratusan meter lahan warga dan tanah kas desa terkikis. Aliran mulai mendekati jalan penghubung antardesa.
Kades Banjaransari Dodik Surya Mukti Wijaya mengatakan pengikisan bantaran sungai sudah terjadi dalam 20 tahun terakhir.
Kondisi saat ini bertambah parah, terutama saat debit air meningkat.
"Sekarang ini sudah mulai mendekati jalan desa. Kalau tidak segera ditangani, ini sangat berbahaya," kata Dodik, Rabu (28/1).
Dodik menyebutkan, hingga saat ini belum ada penanganan fisik secara khusus dari pemerintah pusat.
Dia menjelaskan, kewenangan pengelolaan Sungai Bengawan Madiun berada di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo.
"Sebelumnya, telah dilakukan pengambilan sampel tanah dari berbagai kedalaman di bantaran sungai oleh BBWS Solo,’’ ujarnya.
Pengujian itu, lanjut kades, bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan kondisi tanah guna menentukan jenis pondasi yang paling tepat.
Sekaligus mencegah risiko kegagalan struktur pada bangunan pengaman sungai yang direncanakan.
Namun, belum berlanjut pada pembangunan fisik.
"Warga berharap segera ditindaklanjuti, dibuat tanggul agar pengikisan terhenti," terangnya.
Khawatir dampak lebih parah, mengadukan persoalan tersebut ke Anggota Komisi VI DPR RI Budi Sulistyono Kanang.
Politisi asli Ngawi itu menilai, situasi sudah sangat mengkhawatirkan.
"Pengikisan bantaran kali ini sudah sangat serius. Sekitar 100 meter tanah bantaran sungai telah terkikis," ujar Kanang.
Kanang menegaskan, pembangunan tanggul sungai sulit direalisasikan melalui anggaran pemerintah daerah. Terlebih pemerintah desa.
Selain bukan kewenangan mereka, anggaran yang dibutuhkan juga jumbo.
Dia mendorong agar persoalan tersebut menjadi perhatian pemerintah pusat. "Masalah ini harus ditangani oleh pemerintah pusat," tegasnya. (sae/den)
Editor : Mizan Ahsani