Jawa Pos Radar Ngawi – Anggaran perbaikan sekolah di Kabupaten Ngawi tahun ini mengalami penyusutan.
Pemkab Ngawi hanya mengalokasikan Rp 3,25 miliar dari Dana Alokasi Umum (DAU) APBD 2026 untuk perbaikan 30 sekolah jenjang SD dan SMP.
Angka tersebut turun dibandingkan alokasi tahun sebelumnya.
Pada 2025, anggaran perbaikan sekolah mencapai sekitar Rp 4 miliar untuk 38 SD dan SMP.
Artinya, terdapat defisit sekitar Rp 750 juta.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngawi Zainal Fanani mengatakan, meski anggaran menyusut, percepatan perbaikan tetap dilakukan.
“Pada 2025 alokasi sekitar Rp 4 miliar untuk 38 SD dan SMP. Tahun ini Rp 3,25 miliar untuk 30 sekolah,” ujarnya, Jumat (30/1).
Sebagai langkah percepatan, perbaikan lima SMP dan dua SD telah diajukan lebih awal ke bagian pengadaan barang dan jasa Setda Ngawi melalui satu paket konsolidasi.
Tujuh sekolah tersebut sejatinya sudah dilelang pada tahun lalu, namun gagal tender.
“Karena gagal tender tahun lalu, tahun ini kami percepat prosesnya,” jelas Zainal.
Sementara itu, 21 SD dan dua SMP lainnya direncanakan masuk proses lelang pada Mei mendatang.
Seluruh pengadaan dilakukan melalui sistem tender dengan pola konsolidasi paket.
Menurut Zainal, skema konsolidasi dipilih karena nilai pekerjaan di masing-masing sekolah relatif kecil, rata-rata sekitar Rp 100 juta.
Dengan penggabungan paket, proses pengadaan tetap memenuhi mekanisme tender.
“Rata-rata satu paket konsolidasi nilainya sekitar Rp 400 juta. Untuk SD ada lima paket konsolidasi, SMP satu paket,” terangnya.
Fokus perbaikan diarahkan pada atap ruang kelas dan kamar mandi yang kondisinya sudah lapuk dan berisiko ambruk.
Kerusakan tersebut dinilai membahayakan keselamatan peserta didik jika tidak segera ditangani.
“Banyak atap sudah lapuk dan rawan ambruk. Harapannya, setelah diperbaiki proses belajar mengajar bisa lebih aman dan nyaman,” pungkas Zainal. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto