Jawa Pos Radar Madiun – Suara melengking penuh semangat dari peserta kesebelas, Viky Ariando, seketika memecah keheningan di Atrium Suncity Mall Madiun.
Siswa dari SDN Pitu 2 ini tampil "habis-habisan" di panggung Grand Final Festival Dai Cilik 2026, Sabtu (14/2).
Dengan gaya interaktif dan ekspresi wajah yang hidup, Viky sukses membangun kedekatan emosional dengan dewan juri maupun ratusan hadirin yang memadati lokasi.
Kisah Haru: Dicaci Maki, Dibalas Suapan Lembut
Mengusung tema "Meneladani Sifat Rasulullah di Bulan Ramadan", Viky menyoroti satu sifat utama Nabi yang wajib ditiru: Kedermawanan.
Momen paling menyentuh dalam tausiyahnya adalah saat ia menceritakan kisah teladan Rasulullah dengan seorang pengemis buta Yahudi.
"Meski pengemis itu selalu mencaci maki beliau, Rasulullah tidak pernah marah. Justru beliau rutin menyuapi pengemis itu dengan penuh kasih sayang," kisah Viky.
Menurutnya, inilah puncak akhlak mulia dan ciri orang bertakwa yang menjadi tujuan puasa.
Baca Juga: Aqila Sentil Diskon Ramadan hingga Kisah Ummati di Panggung Grand Final Festival Dai Cilik
Tembang Jawa: Penyesalan di Alam Kubur
Tak hanya piawai bercerita, Viky juga menyisipkan sebuah tembang Jawa yang dilantunkan dengan suara merdu.
Lirik lagu tersebut mengandung pesan mendalam: Andai orang mati bisa hidup kembali, niscaya permintaan pertamanya adalah waktu untuk bersedekah.
Di penghujung penampilannya, Viky mengajak teman-teman sebayanya untuk tidak ragu bersedekah, walau hanya sedikit.
"Cukup sisihkan uang saku seadanya, tapi sertakan hati ikhlas dan senyum ramah. Minimal sedekah senyum kepada sesama," ajaknya yang disambut tepuk tangan meriah. (*)
Editor : Mizan Ahsani