Jawa Pos Radar Ngawi – Pemantauan hilal di Bukit Kerek Indah, Desa Kerek, Kecamatan/Kabupaten Ngawi, belum membuahkan hasil kemarin (17/2).
Hilal tidak tampak karena posisinya masih berada di bawah ufuk.
Berdasarkan data hisab Tim Badan Hisab Rukyat (BHR) Ngawi, ketinggian hilal hakiki tercatat sekitar minus 1 derajat.
Data Ephemeris Kemenag juga menunjukkan hasil serupa, yakni tinggi hilal hakiki -01°13'10” dengan tinggi hilal mar’i -00°39'52” dan elongasi bulan 01°06'21,4”.
Sumber lain seperti Jean Meus dan Irsyadul Murid pun menunjukkan posisi hilal masih minus saat matahari terbenam.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Ngawi Moh. Ersat menjelaskan, kondisi tersebut membuat hilal hampir mustahil terlihat.
“Kalau di bawah tiga derajat hampir tidak mungkin bisa dilihat. Sesuai kriteria MABIMS, tinggi hilal minimal tiga derajat dan elongasi 6,4 derajat. Sementara hasil di Ngawi masih minus,” ungkapnya.
Ersat mengatakan, hasil rukyat dari Bukit Kerek langsung dilaporkan ke Kementerian Agama sebagai bahan Sidang Isbat penentuan 1 Ramadan 1447 H.
Pemerintah mengacu pada Peraturan Menteri Agama (PMA) 1/2026 yang mengatur integrasi metode hisab dan rukyat.
Dalam aturan tersebut, penentuan awal Ramadan, Syawal, dan Zulhijah menggunakan kriteria MABIMS.
“Kalau tidak memenuhi kriteria, maka bulan disempurnakan menjadi 30 hari. Keputusan akhirnya menunggu Sidang Isbat yang dipimpin Menteri Agama,” terangnya.
Meski hilal tidak terlihat, Bukit Kerek Indah masih menjadi salah satu lokasi strategis rukyatul hilal di Jawa Timur.
Titik pantau ini berada di ketinggian sekitar 149 meter di atas permukaan laut, dengan koordinat 7°22'02,81” LS dan 111°27'42,90” BT.
Lokasinya dinilai ideal karena relatif minim polusi cahaya dan penghalang visual. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto