NGAWI – Sedikitnya lima wilayah di Kabupaten Ngawi masih membutuhkan jembatan penghubung untuk mempermudah mobilitas masyarakat.
Selama ini warga harus memutar hingga beberapa kilometer untuk mencapai tujuan.
“Khususnya bagi anak-anak yang pergi ke sekolah,” kata Kabid Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Ngawi Muhammad Fauzi Amir Rachman, Senin (16/3).
Menurut Fauzi, akses jalan di wilayah tersebut sebenarnya sudah tersedia.
Namun karena belum terdapat jembatan penghubung, warga harus memutar sejauh dua hingga tiga kilometer.
Usulan pembangunan jembatan sebenarnya telah diajukan kepada pemerintah pusat.
Namun hingga kini masih menunggu persetujuan. “Belum ACC,” ujarnya.
Baca Juga: Pembunuh Penjual Angkringan di Ngawi Divonis 13 Tahun Penjara dan Bayar Restitusi Rp 215 Juta
Sementara itu, pembangunan jembatan gantung melalui program TNI mulai berjalan di beberapa wilayah untuk membantu membuka akses masyarakat desa.
Program tersebut merupakan bagian dari pembangunan jembatan perintis yang digagas pemerintah pusat.
Di Ngawi, satu jembatan gantung telah selesai dibangun.
Yakni Jembatan Garuda yang menghubungkan Desa Geduro dengan Desa Cepoko di Kecamatan Ngrambe.
Jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 25 meter.
Baca Juga: Menteri LH Sidak Terminal Kertonegoro Ngawi, Soroti Pengelolaan Sampah
Selain itu, pembangunan jembatan gantung juga sedang diproses di Desa Puhti, Kecamatan Karangjati.
Selama ini warga setempat harus memutar melalui wilayah lain bahkan melewati daerah Kabupaten Madiun.
“Waktu tempuh yang sebelumnya harus memutar hingga beberapa kilometer bisa dipangkas menjadi hanya beberapa menit,” kata Dandim 0805/Ngawi Letkol Arh Setu Wibowo. (sae/cor)
Editor : Hengky Ristanto