Jawa Pos Radar Madiun - Peringatan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait potensi kekeringan ekstrem direspons BPBD Ngawi.
Langkah antisipasi disiapkan untuk mengurangi dampak krisis air bersih tahun ini.
BPBD Ngawi telah menyiapkan armada untuk penyaluran air bersih ke wilayah terdampak.
Baca Juga: Omzet UMKM di Bazar Senja Ramadan Ngawi Melonjak, Disparpora Prediksi Capai Rp 600 Juta
"Untuk distribusi air bersih, kami siapkan dua armada,’’ kata Kasi Kedaruratan BPBD Ngawi Partoyo.
13 Desa Masuk Zona Rawan
Hasil pemetaan menunjukkan ada 13 desa yang berpotensi mengalami kekeringan.
Mayoritas berada di wilayah utara Bengawan Solo yang selama ini dikenal rawan krisis air.
"Wilayah utara Bengawan Solo itu memang kesulitan air bersih," terangnya.
Baca Juga: Daftar HP iPhone 1 Jutaan: Fitur Lumayan untuk Budget Pelajar, Ketahui 4 Hal Ini sebelum Beli!
Masalah Bukan Hanya Air, Tapi Kualitas
Selain keterbatasan sumber air, kualitas air juga menjadi persoalan.
Air di wilayah tersebut cenderung asin sehingga tidak layak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
"Memang ada air, tapi kualitasnya kurang baik, asin, sehingga tidak bisa dimanfaatkan maksimal oleh masyarakat," ujarnya.
Solusi Jangka Panjang
BPBD juga menyiapkan langkah jangka panjang dengan membangun jaringan air bersih.
Koordinasi dilakukan bersama dinas perumahan rakyat dan kawasan permukiman.
"Sudah dilakukan, termasuk pipanisasi," pungkas Partoyo. (sae/den)
Editor : Andi Chorniawan