Jawa Pos Radar Ngawi – Produksi padi di Ngawi pada musim tanam pertama (MT 1) 2026 mengalami peningkatan.
Data prognosa triwulan I Januari–Maret mencatat kenaikan baik dari sisi produksi maupun luas panen.
Kabid Tanaman Pangan DKPP Ngawi M Hasan Zunairi mengatakan, produksi padi mencapai 195.620 ton gabah kering giling (GKG).
’’Secara umum ada peningkatan, terutama dari sisi luas tanam yang lebih besar,’’ ujarnya, kemarin (29/3).
Angka tersebut naik 7.037 ton dibanding periode yang sama tahun 2025 sebesar 188.583 ton GKG.
Kenaikan produksi ditopang bertambahnya luas panen. Tahun ini diperkirakan mencapai 32.369 hektare, meningkat dari 31.263 hektare pada 2025.
’’Bertambah sekitar 1.106 hektare,’’ jelasnya.
Selain itu, kecukupan sarana produksi dan ketersediaan air juga mendukung peningkatan hasil panen.
Distribusi pupuk yang lebih baik serta kondisi air yang memadai selama MT 1 turut mendorong produksi.
Dari sisi produktivitas, terjadi kenaikan meski tipis. Dari 6,03 ton per hektare menjadi 6,04 ton per hektare.
Hasan menyebut peningkatan tersebut mulai dirasakan dampaknya dari kebijakan penambahan pupuk di awal 2026.
’’Peningkatan ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah terkait penambahan pupuk,’’ ujarnya.
Meski demikian, tantangan mulai mengintai pada musim tanam kedua (MT 2).
Penurunan curah hujan mulai April diperkirakan memicu kemarau lebih kering.
Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ketahanan pangan, terutama pada lahan dengan keterbatasan sumber air.
’’Khususnya lahan sawah yang ketersediaan air bakunya terbatas,’’ tandasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto