Jawa Pos Radar Ngawi – Serapan gabah di Kabupaten Ngawi melesat.
Perum Bulog mencatat realisasi telah menembus 34 ribu ton atau 59 persen dari target 60 ribu ton per awal April 2026.
Capaian tersebut menjadikan Ngawi sebagai daerah dengan serapan gabah tertinggi di wilayah eks Karesidenan Madiun.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menyebut potensi pertanian Ngawi sangat besar.
’’Produktivitasnya tinggi. Padinya bagus,’’ ujarnya saat panen raya di Desa Baderan, Kecamatan Geneng, Sabtu (4/4).
Bulog memastikan penyerapan gabah mengacu pada harga pembelian pemerintah (HPP) Rp 6.500 per kilogram.
’’Kami jaga agar petani mendapat harga layak,’’ imbuhnya.
Secara nasional, target penyerapan gabah dan beras tahun ini mencapai 4 juta ton.
Hingga awal April, stok beras Bulog telah mencapai 4,4 juta ton dengan kapasitas gudang 5,2 juta ton.
Masih tersedia ruang sekitar 1,2 juta ton untuk penyerapan lanjutan.
Wakil Bupati Ngawi, Dwi Rianto Jatmiko, menyebut produksi padi daerahnya terus meningkat.
Data Badan Pusat Statistik mencatat produksi padi 2025 mencapai 772.571 ton gabah kering giling (GKG) atau sekitar 7 persen kontribusi Jawa Timur.
Luas panen mencapai 129.013 hektare dengan produksi beras 446.098 ton.
Meski luas baku sawah hanya peringkat keenam, produktivitas tinggi menjadi kunci.
Rata-rata mencapai 5,99 ton GKG per hektare dengan indeks pertanaman 2,59.
’’Ngawi peringkat tiga setelah Lamongan dan Bojonegoro,’’ tandasnya. (sae/her)
Editor : Hengky Ristanto